Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kevin Andriano: KM ITERA 2026–2027 Harus Lebih Dekat, Responsif, dan Berdampak Nyata bagi Mahasiswa

Foto : Presiden KM ITERA periode 2026 – 2027 Kevin Andriano (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim -- Lampung Selatan, 02 Juli 2026, Presiden KM ITERA periode 2026–2027, Kevin Andriano, menegaskan bahwa organisasi mahasiswa tidak boleh hanya hadir sebagai struktur formal di lingkungan kampus. KM ITERA, menurutnya, harus menjadi ruang yang benar-benar dekat dengan mahasiswa, responsif terhadap persoalan, serta mampu menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan akademik dan kemahasiswaan.

Kevin Andriano, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro angkatan 2023, membawa visi untuk mewujudkan KM ITERA yang harmonis, kolaboratif, dan berdampak nyata dalam membangun mahasiswa ITERA yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter. Visi tersebut menjadi arah utama gerak KM ITERA selama satu periode kepemimpinannya.

“Saya ingin KM ITERA sebagai badan eksekutif utama di ITERA benar-benar dirasakan oleh seluruh mahasiswa,” ujar Kevin.

Menurutnya, keberhasilan kabinet tidak cukup diukur dari banyaknya program kerja yang dijalankan. Lebih dari itu, KM ITERA harus mampu hadir ketika mahasiswa membutuhkan pendampingan, ruang aspirasi, dan penyelesaian atas persoalan yang mereka hadapi.

Advokasi Mahasiswa Menjadi Prioritas

Kevin menempatkan advokasi sebagai salah satu agenda paling mendesak dalam kepemimpinannya. Ia menilai persoalan fasilitas, kebijakan kampus, dan kesejahteraan mahasiswa harus ditangani secara cepat, tepat, dan tidak berhenti sebagai janji kampanye.

Bagi Kevin, program kerja memang penting, tetapi advokasi memiliki jangkauan yang lebih luas karena dapat menyentuh kebutuhan mahasiswa secara langsung.

“Ketika mahasiswa membutuhkan advokasi, memiliki pertanyaan, atau ada kebutuhan yang bisa diakomodasi oleh kabinet KM ITERA, saya ingin itu dilaksanakan secara cepat dan tepat,” tegasnya.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah persoalan fasilitas kampus, termasuk permasalahan perpustakaan yang sempat ramai dibicarakan mahasiswa. Kevin menilai persoalan fasilitas akademik bukan sekadar keluhan teknis, melainkan bagian dari hak mahasiswa untuk memperoleh lingkungan belajar yang layak.

Perkuat Ruang Aspirasi dan Perlindungan Mahasiswa

Untuk mendekatkan KM ITERA dengan mahasiswa lintas program studi dan angkatan, Kevin mendorong penguatan forum diskusi serta kanal aspirasi. Beberapa program yang menjadi perhatian adalah IRIS dan LARA atau Labuan Aspirasi.

IRIS diarahkan sebagai ruang pelaporan dan pendampingan terkait pelecehan seksual maupun kekerasan terhadap mahasiswa. Kevin menilai kanal seperti ini harus terus dihidupkan, bukan hanya tersedia secara administratif. Penguatan edukasi, aktivasi media sosial, dan penyebaran informasi menjadi bagian penting agar mahasiswa mengetahui ruang aman yang dapat mereka akses ketika menghadapi persoalan serius.

Sementara itu, LARA disiapkan sebagai wadah untuk menghimpun aspirasi mahasiswa mengenai fasilitas dan kebijakan kampus. Aspirasi yang masuk tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga diproses agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan KM ITERA.

Media Digital sebagai Sarana Pencerdasan

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Kevin melihat media digital sebagai instrumen penting untuk membangun kesadaran mahasiswa. Menurutnya, KM ITERA perlu memaksimalkan media sosial sebagai ruang pencerdasan, baik terkait isu internal kampus maupun isu sosial yang berdampak pada mahasiswa.

Melalui kanal seperti Sukma KM ITERA, mahasiswa diharapkan tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu membaca persoalan kampus secara lebih kritis. Kevin menilai mahasiswa perlu memahami isu yang berhubungan dengan kepentingan mereka sebelum persoalan tersebut berkembang lebih jauh.

Menjawab Tekanan Akademik Mahasiswa

Kevin juga menyoroti tekanan akademik yang dialami mahasiswa ITERA. Ia mengakui bahwa kehidupan akademik di ITERA tidak selalu mudah. Beban kuliah, aktivitas organisasi, dan hambatan birokrasi kerap menjadi tantangan yang memengaruhi keseimbangan hidup mahasiswa.

Untuk merespons hal tersebut, KM ITERA akan memaksimalkan fungsi advokasi akademik serta memperkuat program Brain Boost, yaitu program tutorial bagi mahasiswa Tahap Bersama. Program ini ditujukan untuk membantu mahasiswa menghadapi perkuliahan, UTS, maupun UAS dengan dukungan belajar yang lebih terarah.

Selain itu, Kevin juga mendorong budaya riset melalui forum riset se-ITERA. Program ini diarahkan untuk mendorong mahasiswa dan himpunan agar tidak hanya peka terhadap isu, tetapi juga mampu menghasilkan kajian, penelitian, atau produk berbasis keilmuan.

Mahasiswa ITERA Harus Hadir dalam Isu Besar Sumatera

Sebagai kampus berbasis sains dan teknologi, ITERA memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai isu besar, mulai dari lingkungan, krisis iklim, energi, teknologi, hingga pembangunan Sumatera.

Kevin menilai mahasiswa ITERA memiliki potensi besar karena banyak program studi yang bersinggungan langsung dengan persoalan tersebut, seperti teknik lingkungan, pertambangan, kehutanan, geologi, dan bidang teknologi lainnya.

Menurutnya, kepedulian mahasiswa harus naik menjadi kontribusi konkret. Mahasiswa tidak cukup hanya sadar terhadap isu, tetapi juga perlu menghasilkan kajian, gagasan, dan solusi yang relevan bagi masyarakat.

“Mahasiswa ITERA punya potensi besar untuk menyelesaikan masalah lingkungan dan pembangunan. Kesadaran itu perlu ditingkatkan lagi ke tahap penerapan,” kata Kevin.

Transparansi dan Kepercayaan Mahasiswa

Dalam menjaga akuntabilitas, Kevin menegaskan pentingnya koordinasi dengan Senat KM ITERA sebagai lembaga pengawas sekaligus perpanjangan tangan mahasiswa. Ia tidak ingin kabinet berjalan tanpa komunikasi dan pengawasan kelembagaan.

Bagi Kevin, kepercayaan mahasiswa hanya dapat dibangun melalui koordinasi yang terbuka, komunikasi yang jelas, dan kesediaan kabinet untuk diawasi. Setiap kegiatan maupun kebijakan penting perlu dikomunikasikan agar arah gerak KM ITERA tetap berada dalam koridor kepentingan mahasiswa.

Mahasiswa sebagai Kekuatan Intelektual dan Kontrol Sosial

Kevin juga menegaskan bahwa mahasiswa tetap memiliki peran penting sebagai kekuatan intelektual dan kontrol sosial. Dalam konteks kebijakan nasional, mahasiswa tidak boleh hanya bersuara ketika suatu isu sudah berdampak langsung pada dirinya.

Menurutnya, mahasiswa harus memiliki kepekaan membaca ketimpangan, keberanian menyuarakan kejanggalan, dan tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, kesejahteraan rakyat, demokrasi, dan masa depan generasi muda.

“Isu itu jangan sampai terkena kepada kita dulu baru kita suarakan. Ketika kita melihat ada kejanggalan, maka itu harus mulai disuarakan,” ujar Kevin.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan KM ITERA 2026–2027 tidak hanya diarahkan pada urusan internal organisasi, tetapi juga pada penguatan kesadaran kritis mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat.

KM ITERA sebagai Rumah Gerak Mahasiswa

Melalui kepemimpinannya, Kevin ingin KM ITERA menjadi rumah gerak yang tidak berjarak dengan mahasiswa. Organisasi mahasiswa, menurutnya, harus hadir sebagai pendengar, pendamping, penghubung, sekaligus penggerak perubahan.

Jika kepemimpinannya berhasil menghadirkan KM ITERA yang berdampak nyata, Kevin berharap semangat tersebut dapat diteruskan oleh kepemimpinan berikutnya. Namun jika masih terdapat kekurangan, ia berharap generasi setelahnya mampu menyempurnakan.

Dengan arah tersebut, KM ITERA 2026–2027 membawa pesan penting: mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Mahasiswa harus berani berpikir, bersuara, berkolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi kampus, Sumatera, dan Indonesia. (Ugy/FM)