KMHDI Kota Metro dan DPRD Dorong Pembelajaran Anti-Intoleransi di Sekolah
Filsafat Muslim - Pada 4 November 2025, Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Kota Metro melakukan audiensi dengan Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Ancilla Hernani, membahas pentingnya memperkuat nilai-nilai toleransi dalam sistem pendidikan di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya nyata mahasiswa dalam menanggapi meningkatnya gejala intoleransi di kalangan pelajar.
Dalam diskusi yang berlangsung di ruang Komisi II DPRD Kota Metro, perwakilan KMHDI menyampaikan kekhawatiran atas munculnya sikap eksklusif dan penolakan terhadap perbedaan yang mulai tampak di beberapa lingkungan sekolah. Menurut mereka, pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar menghargai keberagaman dan menumbuhkan empati terhadap sesama.
Ketua PC KMHDI Kota Metro, Gede Widiyana, menjelaskan bahwa penanaman nilai toleransi tidak bisa hanya mengandalkan kegiatan seremonial, tetapi perlu diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler.
“Pendidikan toleransi harus dimulai sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan bagaimana hidup berdampingan dalam perbedaan dan menghormati setiap keyakinan. Nilai-nilai kemanusiaan universal harus menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah,” ujar Gede dengan tegas.
Ia juga menambahkan bahwa KMHDI siap bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk menyusun modul edukatif yang berbasis kebhinnekaan dan moderasi beragama, agar implementasinya dapat diterapkan secara efektif di seluruh sekolah di Kota Metro.
Dukungan dari DPRD: Pendidikan Sebagai Pilar Persatuan
Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Ancilla Hernani, menyambut positif inisiatif KMHDI tersebut. Ia menilai bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan lembaga legislatif menjadi bentuk konkret sinergi dalam memperkuat nilai kebangsaan dan kemanusiaan di dunia pendidikan.
“Kami mendukung penuh gagasan ini. Sekolah harus menjadi tempat yang menumbuhkan rasa saling menghormati, bukan justru memperlebar jarak antaragama atau antarkelompok. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan akan kami dorong agar membuat program pembelajaran yang menekankan pada nilai karakter dan kebhinnekaan,” ujar Ancilla.
Ancilla menegaskan, penguatan pendidikan karakter berbasis toleransi sangat relevan di tengah tantangan globalisasi dan arus informasi yang begitu cepat. Menurutnya, anak-anak harus dibekali kemampuan berpikir kritis sekaligus memiliki empati sosial agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem.
Kolaborasi untuk Sekolah Inklusif
Pertemuan ini menandai awal dari kerja sama antara DPRD, KMHDI, dan lembaga pendidikan di Kota Metro. Rencananya, kolaborasi ini akan diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan guru, serta program student camp bertema kebhinnekaan dan dialog lintas iman. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan iklim sekolah yang damai, inklusif, dan bebas dari intoleransi.
“Intinya, kita ingin agar pelajar di Kota Metro tumbuh menjadi generasi yang terbuka, berpikir kritis, dan menghormati sesama. Karena dari sekolah lah kita belajar tentang kemanusiaan,” tambah Gede.
Membumikan Nilai Kemanusiaan dalam Pendidikan
Upaya membangun pendidikan yang menghargai keberagaman sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menekankan keseimbangan, keadilan, dan kasih sayang. Prinsip hidup rukun dalam perbedaan menjadi fondasi penting untuk membentuk masyarakat yang berkeadaban dan saling menghormati.
Dengan mengedepankan semangat kebersamaan dan empati sosial, pendidikan diharapkan tidak hanya mencetak pelajar yang cerdas secara akademis, tetapi juga bijak secara moral dan spiritual. Nilai-nilai ini memperkuat kesadaran bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan yang menyatukan.
Kegiatan audiensi antara KMHDI dan DPRD Kota Metro ini tidak hanya menjadi momentum dialog kebijakan, tetapi juga langkah nyata menuju masa depan pendidikan yang berkarakter, inklusif, dan berlandaskan kemanusiaan yang universal. (Ugy/FM)
