Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Recollection Budaya Pondok Pesantren, Apakah Dapat Di Katakan Feodalisme?, Oleh Supriyadi Kepala Bidang Kaderisasi IMM Cabang Lampung Selatan

Foto : Kabid Kaderisasi IMM Cab. Lampung Selatan Supriyadi (Hdk/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim - Dunia pendidikan khususnya pada sektor pondok pesantren memang tidak ada habisnya, dari budaya yang masih menjadi pro dan kontra hingga oknum oknum yang tidak bertanggung jawab,  pada  kesempatan  kali  ini  Jumat  (07/10/25), Aula  Universitas  Muhammadiyah Kalianda, 14.00-15.00 WIB, tim redaksi menemui salah satu anggota organisasi kemahasiswaan Muhamadiyah yakni: Supriyadi sebagai kepala bidang kaderisasi IMM cabang Lampung Selatan, dalam pertemuan yang singkat menghasilkan beberapa pokok pembahasan tentang budaya pondok pesantren yang terlalu berlebihan dalam kalangan dunia pendidikan.

IMM adalah singkatan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Tujuan utamanya adalah mencetak akademisi Islam yang berakhlak mulia untuk mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Ciri khas IMM adalah memiliki tiga kompetensi dasar yang dikenal sebagai Trilogi IMM: religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

Budaya pondok pesantren tidak habis-habisnya menuai kontroversi, ada yang setuju dan ada yang menolak. Bagi mereka yang setuju mengenai budaya pondok pesantren seperti mengesot, mencium kaki, serta merangkak itu hanya sebagai sarana penghormatan untuk mendapatkan berkah ilmu dari gurunya. "Supriyadi sebagai kepala bidang kaderisasi IMM Cabang Lampung Selatan, tidak mengecam dan tidak menyalahka budaya seperti itu menurutnya : budaya budaya yang terjadi di hari ini di pondok pesantren khususnya apalagi pondok pesantren yang santrinya banyak, budaya seperti menunduk, jongkok, minum air kyai, itu hanya sebatas takzim ( dalam pandangan meraka) memang, dalam pandangan IMM sendiri menghormati tidak perlu terlalu menundukkan diri sampai ngesot, dsb, dalam budaya Muhammadiyah tidak dibenarkan budaya seperti itu."

Pondok pesantren sendiri merupakan lembaga pendidikan Islam berbasis agama, biasanya dengan sistem asrama, dengan kyai sebagai figur utama. Dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman agama Islam (tafakkuh fiddin) dan membentuk pribadi muslim yang bermoral tinggi dan disiplin, sering kali dengan metode pengajaran melalui kitab klasik. Pesantren memiliki ciri khas yaitu sistem asrama (pondok), masjid sebagai pusat kegiatan, dan peran sentral kyai dalam membimbing santri.

Kembali dengan budaya pondok pesantren, Supriyadi juga menjelaskan mengenai mengapa penghormatan yang berlebihan itu dapat terjadi menurutnya: "pondok pesantren yang berbasis salafiyah mereka mengajarkan seperti itu (mengesot, merangkak) yakni ada tiga substansi, yang pertama takzim kepada ahli ilmunya, yang kedua Mereka ingin mendapat berkah ilmunya, yang ketiga budaya tersebut diwariskan dari sanad sanad gurunya. Budaya-budaya di pondok pesantren itu timbul dari budaya Keraton Jawa budaya Keraton Jawa memang seperti itu nah santri banyak yang berasal dari Jawa lalu menyebar ke Sumatera hingga budaya-budaya itu terus terjaga dan menjadi eksis sampai sekarang kembali lagi Muhammadiyah tidak membenarkan budaya-budaya seperti itu,

"Kita kader IMM kita menghormati seseorang itu dengan mengikuti ucapan baiknya dan tidak mencelanya itu sudah lebih dari cukup" imbuhnya

budaya yang di lakukan Pondok Pesantren yang marak sekali terjadi tidak serta-merta di benarkan dan tidak sepenuhnya salah, maka budaya pesantren setidaknya harus ada peningkatan dan modernisasi guna menyokong dunia pendidikan khususnya sektor pondok pesantren agar lebih baik. (Hdk/ FM)