Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ONFIRE: Obrolan Islami Mengendalikan Diri di Era Digital

Foto : Pemberi Materi Ceramah/ Akademisi Kampus ITERA Fajar Perdana Nurullah, S.T., M.T. (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim - Pada 13 November 2025 di Masjid Baitul Ilmi, dalam suasana sore yang penuh semangat, kegiatan ONFIRE: Obrolan Islami – Full Insight & Recharge Eeman yang diadakan oleh Madani ITERA menghadirkan pembicara Bapak Fajar Perdana Nurullah, S.T., M.T. Acara ini menjadi wadah refleksi spiritual dan intelektual bagi mahasiswa ITERA, dengan tema utama tentang pengendalian diri sebagai kunci kebahagiaan dan keselamatan hidup.

Acara dibuka dengan pembacaan hamdalah dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dalam pembukaannya, Bapak Fajar menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk berdiskusi dalam majelis ilmu yang diharapkan menjadi ladang keberkahan. “Semoga semangat adik-adik semua dalam menyelenggarakan kegiatan positif seperti ini menjadi amal saleh yang dibalas dengan kebaikan berlipat oleh Allah,” ujarnya.

Sebuah Kisah Tentang Kendali Diri

Bapak Fajar kemudian memulai dengan sebuah kisah nyata tentang salah satu mahasiswanya. Seorang mahasiswa baru yang awalnya berprestasi di bawah bimbingan orang tuanya, kehilangan arah ketika harus hidup mandiri di perantauan. Kecanduan bermain game online membuatnya jarang hadir kuliah hingga akhirnya menghadapi konsekuensi akademik.

“Masalah utama bukan pada game-nya, tapi pada kurangnya self control,” jelas beliau. “Begitu kehilangan pengawasan orang tua, banyak yang tidak siap mengatur diri. Padahal pengendalian diri itu salah satu tantangan terbesar manusia.”

Beliau menegaskan, bahkan bagi orang dewasa sekalipun, kemampuan menaklukkan diri sendiri adalah perjuangan seumur hidup. “Kita sering tahu mana yang benar tapi sulit melakukannya. Tahu bahwa salat di awal waktu itu baik, tapi tetap menunda. Itulah musuh terbesar: diri kita sendiri.”

Fondasi Pengendalian Diri dalam Islam

Bapak Fajar kemudian menjelaskan bahwa Islam telah menyediakan perangkat lengkap untuk membentuk pribadi yang mampu mengendalikan diri. Beliau menekankan beberapa poin penting:

1. Iman dan kesadaran akan pengawasan Allah. Berdasarkan surah Al-Mulk ayat 12:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat, bagi mereka ampunan dan pahala besar.” Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah menjadi landasan utama dalam menahan diri dari maksiat.

2. Salat sebagai sarana disiplin spiritual. Mengutip surah Al-Ankabut ayat 45

"ٱقْرَأْ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ",

"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

beliau menjelaskan, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” Beliau menekankan pentingnya menjaga salat tepat waktu karena di situlah latihan disiplin dan kendali diri dibentuk.

3. Puasa sebagai latihan pengendalian nafsu. Melalui puasa, seseorang dilatih menahan lapar, amarah, dan syahwat. “Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tapi menahan diri dari segala yang dilarang. Ia seperti tameng yang melindungi dari keburukan,” ungkapnya.

4. Menuntut ilmu sebagai cahaya pengendali. Dalam surah Az-Zumar ayat 9 disebutkan:

أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Artinya: (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

5. Bergaul dengan orang saleh. Beliau mengutip hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi: “Seseorang tergantung pada agama temannya. Maka perhatikanlah dengan siapa ia berteman.” Lingkungan yang baik akan membentuk karakter yang baik pula.

6. Mengingat kematian. Mengutip hadis riwayat Tirmidzi, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” Menurut beliau, kesadaran akan kematian membuat seseorang lebih berhati-hati dan menjauhi dosa.

7. Taubat dan istighfar. Sebagai penutup, beliau mengingatkan pentingnya jalan kembali setelah tergelincir. Mengutip surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 “Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Menjadi Pribadi yang Terkendali dan Tangguh

Bapak Fajar menutup dengan penekanan bahwa kemampuan mengendalikan diri adalah fondasi dari ketakwaan. “Kalau kita mampu mengendalikan diri, insyaallah hidup kita tidak akan pernah buruk. Allah akan cukupkan rezeki, tenangkan hati, dan muliakan kedudukan hamba-Nya yang taat,” ucapnya.

Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kegiatan seperti ONFIRE ini sebagai momentum memperbarui semangat spiritual di tengah era digital yang penuh godaan. “Kekuatan iman, ilmu, dan lingkungan saleh akan menuntun kita untuk tetap teguh di jalan yang benar,” tutupnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi ringan dan doa bersama menjelang iftar. Semangat kebersamaan dan refleksi diri menjadi penutup yang hangat bagi peserta, meneguhkan pesan utama: bahwa kunci bahagia dan selamat di dunia maupun akhirat adalah dengan menguasai diri dan menundukkan hawa nafsu demi meraih ridha Allah. (Ugy/FM)