Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lembaga Pers ITERA Dorong Pers Mahasiswa yang Independen dan Berani Menyuarakan Aspirasi

Foto : Ketua Umum Lembaga Pers ITERA, Arvel Alyagin (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim -- Lampung Selatan Arvel Alyagin, mahasiswa Teknik Telekomunikasi angkatan 2023, kini menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Pers ITERA periode 2026–2027. Di bawah kepemimpinannya, Lembaga Pers ITERA diarahkan menjadi media mahasiswa yang independen, profesional, bertanggung jawab, sekaligus menjadi ruang pengembangan bagi pers mahasiswa di lingkungan kampus (30/4/2026).

Membangun Pers Mahasiswa yang Independen

Arvel menyebut, visi utama yang dibawanya adalah mewujudkan Lembaga Pers ITERA sebagai media yang independen, profesional, dan bertanggung jawab. Selain itu, ia ingin lembaga ini menjadi wadah pengembangan sumber daya pers mahasiswa.

Menurut Arvel, Lembaga Pers ITERA memiliki beberapa bidang minat, yaitu jurnalistik, fotografi, videografi, dan desain. Bidang-bidang tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi anggota untuk berkembang dan menghasilkan karya yang lebih baik.

Untuk mendukung visi tersebut, Arvel menekankan pentingnya loyalitas dan integritas anggota dalam menjaga independensi serta profesionalisme lembaga. Ia juga mendorong adanya sistem pelatihan dan pendampingan di bidang jurnalistik, fotografi, videografi, dan desain. Selain itu, Lembaga Pers ITERA ingin membangun keberanian dan inovasi dalam menyuarakan kebenaran secara inklusif. Menurut Arvel, sebagai pers mahasiswa, keberanian untuk menyampaikan fakta dan keresahan mahasiswa menjadi hal yang penting.

Mengutamakan Verifikasi dan Penyuntingan

Dalam kerja jurnalistik, Arvel menegaskan bahwa Lembaga Pers ITERA tidak hanya mengandalkan satu sudut pandang. Jika ada isu di lingkungan kampus, tim pers berupaya menggali informasi dari berbagai pihak agar berita yang diterbitkan tetap objektif dan berimbang.

Sebelum diterbitkan, berita juga melalui proses koreksi dan penyuntingan. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan kesalahan serta memastikan informasi yang disampaikan layak dibaca publik.

“Jadi biar nggak ada miss dari berita yang kita terbitkan,” ujar Arvel.

Menjadi Jembatan Aspirasi Mahasiswa

Bagi Arvel, peran pers mahasiswa sangat penting dalam menyuarakan aspirasi, kritik, dan informasi di lingkungan ITERA. Ia menilai pers mahasiswa bukan hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan keresahan yang mungkin tidak dapat mereka sampaikan secara langsung.

Pers mahasiswa, menurutnya, dapat menjadi jembatan antara mahasiswa dan lingkungan kampus. Di sisi lain, keberadaan Lembaga Pers ITERA juga diharapkan mampu mendorong budaya kritis di kalangan mahasiswa.

Arvel menilai mahasiswa perlu lebih peduli terhadap lingkungan kampus. Jika ada keresahan, persoalan, atau kebijakan yang perlu dikritisi, mahasiswa diharapkan berani menyampaikannya dengan cara yang tepat.

Isu Kampus: Fasilitas, Internet, BRT, dan Aturan Helm

Menurut Arvel, isu di lingkungan ITERA cukup luas karena kampus masih terus berkembang. Salah satu isu yang dekat dengan mahasiswa adalah fasilitas penunjang akademik.

Ia mencontohkan kondisi ruang kelas yang belum sepenuhnya nyaman karena ada AC yang tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, beberapa toilet juga disebut masih mengalami kerusakan, meskipun sebelumnya telah terlihat diperbaiki.

Masalah lain yang disoroti adalah akses internet. Arvel menyebut jaringan internet di lobi GK1 dan GK2 sudah tidak tersedia seperti sebelumnya. Bahkan, di GSC, termasuk area sekretariat Lembaga Pers ITERA, akses internet disebut belum menjangkau dengan baik.

Selain fasilitas, Arvel juga menyinggung isu BRT. Menurutnya, layanan tersebut seharusnya dapat dioptimalkan lebih dulu di lingkungan ITERA karena berpotensi mengurangi jumlah mahasiswa yang membawa kendaraan pribadi. Hal ini dinilai berkaitan dengan kondisi kantong parkir kampus yang kerap penuh.

Lembaga Pers ITERA juga pernah mengangkat isu terkait aturan penggunaan helm. Arvel menyebut aturan tersebut menjadi perhatian karena fasilitas helm dinilai belum memadai.

Tidak Mengejar Viralitas

Di tengah cepatnya arus informasi di media sosial, Arvel menegaskan bahwa Lembaga Pers ITERA tetap mengutamakan akurasi. Menurutnya, informasi yang belum sepenuhnya benar sering kali sudah tersebar luas karena banyak orang membagikannya tanpa melakukan validasi.

Karena itu, Lembaga Pers ITERA memilih untuk mengkaji terlebih dahulu setiap isu yang akan diberitakan. Proses tersebut dilakukan dengan mengecek fakta di lapangan dan mewawancarai narasumber terkait.

Arvel mengakui proses verifikasi dapat membuat publikasi berjalan lebih lambat. Namun, ia menilai hal itu lebih baik daripada menerbitkan informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami nggak hanya mengejar viral. Tapi benar-benar apa yang kami sampaikan itu bisa dipertanggungjawabkan,” kata Arvel.

Harapan untuk Pers Mahasiswa ITERA

Arvel berharap Lembaga Pers ITERA dapat terus berkembang. Ia menjelaskan bahwa pada awal berdirinya, lembaga ini belum sepenuhnya menjadi pers mahasiswa, melainkan lebih dekat dengan komunitas fotografi dan peran kehumasan. Seiring pergantian generasi, lembaga tersebut berkembang menjadi lembaga pers mahasiswa.

Ke depan, Arvel ingin Lembaga Pers ITERA tidak hanya menyajikan berita, tetapi juga mendorong budaya literasi di kalangan mahasiswa. Mahasiswa diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah terpengaruh hoaks.

Ia juga berharap Lembaga Pers ITERA semakin berani berpendapat, mengkaji kebijakan kampus, serta menjadi ruang aman bagi siapa pun yang ingin menyampaikan pendapat atau aspirasi.

Harapan terhadap Rektor ke Depan

Terkait kepemimpinan rektor ke depan, Arvel berharap ITERA dapat menjadi lebih baik. Ia juga berharap hal-hal yang belum terlaksana pada periode sebelumnya, terutama terkait fasilitas, dapat diwujudkan pada periode berikutnya.

Arvel menekankan pentingnya transparansi rektor kepada mahasiswa. Menurutnya, sebagai pers mahasiswa, Lembaga Pers ITERA membutuhkan ruang untuk memverifikasi isu langsung kepada pihak kampus, termasuk rektor.

Ia juga berharap kegiatan seperti obrolan bersama rektor dapat diperbanyak, sehingga rektor dapat mendengar langsung aspirasi mahasiswa.

Dengan posisi tersebut, Lembaga Pers ITERA berupaya menjalankan perannya sebagai jembatan antara mahasiswa dan kampus, sekaligus mendorong budaya kritis, literasi media, dan keberanian berpendapat di lingkungan ITERA. (Ugy/FM)