Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mahasiswa Itera Kembangkan Robustera, Pengering Kopi Hibrida Berbasis Biomassa dan Energi Surya

Foto : Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan inovasi teknologi pengering kopi hibrida bernama Robustera (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim -- Lampung Selatan, Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan inovasi teknologi pengering kopi hibrida bernama Robustera. Alat ini dirancang untuk mempercepat proses pengeringan kopi robusta Lampung dengan memanfaatkan kombinasi energi biomassa dari limbah kopi dan energi surya.

Teknologi tersebut diterapkan melalui skema Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) bersama Kelompok Tani Sinarbanten di Desa Gunung Sadar, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara.

Tim pengembang Robustera terdiri atas mahasiswa Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi Itera, yaitu Egi Setiawan sebagai ketua, bersama Julius Lionel Gustalvo, Muhammad Rizki Saputra, Rahmat Ramadhan, dan Yolanda Novelin. Program ini dibimbing oleh dosen Itera Fadli Hastito, M.T.

Ketua tim, Egi Setiawan, menjelaskan bahwa inovasi Robustera hadir untuk menjawab kendala petani kopi yang masih bergantung pada kondisi cuaca selama proses pengeringan. Metode pengeringan konvensional membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 14 hari hingga kadar air kopi mencapai standar yang diharapkan, Jumat (11/9/2026).

“Proses pengeringan kopi yang masih bergantung pada cuaca dapat memengaruhi waktu produksi dan kualitas hasil panen. Melalui Robustera, proses tersebut dapat dilakukan lebih cepat dengan kondisi pengeringan yang lebih terkendali,” ujar Egi.

Robustera menggunakan limbah hasil pengolahan kopi, seperti sekam, kulit cangkang, dan kulit ari kopi, sebagai sumber energi biomassa. Limbah tersebut diolah menjadi briket yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar pengering.

Pemanfaatan limbah kopi ini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap cuaca, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Penggunaan biomassa dalam bentuk briket juga membantu mengurangi paparan asap yang dapat memengaruhi mutu biji kopi selama proses pengeringan.

Sistem Robustera menggabungkan energi biomassa dengan energi matahari melalui dukungan panel surya. Energi dari panel digunakan untuk menjalankan beberapa komponen utama, seperti blower, sistem pemantauan, dan pemanas tambahan (heater).

Saat alat beroperasi, heater akan memanaskan filamen selama kurang lebih 90 detik. Setelah itu, blower bekerja secara otomatis untuk memperbesar pembakaran biomassa dan mengalirkan panas menuju ruang pengering. Sistem kendali suhu akan menjaga kondisi ruang pengering agar tetap stabil.

Ketika suhu melebihi 50 derajat Celsius, kecepatan blower akan diturunkan secara otomatis untuk mencegah panas berlebih yang dapat memengaruhi kualitas kopi.

Dalam pengujian dengan kapasitas 15 kilogram kopi, Robustera mampu menurunkan kadar air kopi dari 30,5 persen menjadi 10 persen dalam waktu sekitar dua jam dengan menggunakan 20 briket biomassa.

Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini dapat membantu mempercepat proses pascapanen kopi. Selain kopi, sistem Robustera juga memiliki peluang untuk dikembangkan pada komoditas pertanian lain, seperti pinang, kakao, dan padi yang membutuhkan proses pengeringan terkendali.

Mitra program, Candra Darussman, menyampaikan bahwa penerapan Robustera memberikan perubahan pada proses pengolahan kopi di kelompok tani. Jika sebelumnya pengeringan membutuhkan waktu hingga dua minggu, kini proses tersebut dapat dilakukan hanya dalam hitungan jam.

“Teknologi ini membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas kopi yang dihasilkan,” kata Candra.

Program pengembangan Robustera sebelumnya telah melalui seleksi internal Itera sebelum lolos seleksi nasional dan memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Setelah tahap penerapan kepada mitra selesai, Robustera akan mengikuti Penilaian Kemajuan Pelaksanaan PKM (PKP2) sebagai bagian dari evaluasi program. Tim selanjutnya akan mempersiapkan inovasi tersebut untuk diajukan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026.

Melalui inovasi ini, mahasiswa Itera menunjukkan bahwa riset kampus dapat dikembangkan menjadi teknologi terapan yang menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan efisiensi pengolahan hasil pertanian berbasis energi berkelanjutan.