Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membangun "Rumah" Peradaban: Menakar Kekuatan Visi Umat Islam di Tengah Krisis Global

Foto : Bung Ridho selaku Narasumber dalam Kajian Rumah Inspirasi

Bandar Lampung, Filsafat Muslim — Apa yang membedakan seorang pekerja biasa dengan seorang pencetak sejarah? Jawabannya bermuara pada satu kata yang singkat namun memiliki daya ledak luar biasa: Visi.

Visi bukan sekadar angan-angan kosong; ia adalah kompas tak kasatmata yang memberikan energi, kekuatan, dan dorongan luar biasa dalam mengarahkan setiap jengkal keseharian kita. Apa yang kita lakukan hari ini, sejatinya adalah cerminan dari visi yang kita yakini di masa depan.

Isu fundamental inilah yang menjadi sorotan utama dalam Kajian Rumah Inspirasi yang mengangkat tema "Kekuatan Visi: Apakah Ummat Islam Hari Ini Sudah Memilikinya?". Acara yang digelar pada hari Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 20.15 hingga 22.00 WIB ini menghadirkan Bung Ridho sebagai narasumber. Bertempat di Rubin Rumah Inspirasi, Jalan Raden Saleh, Way Huwi (Tepat di depan Masjid Miftahul Huda), diskusi ini seolah menampar kesadaran kita tentang hilangnya arah peradaban umat di tengah carut-marut dunia modern. 

Foto : Bung Ridho Mencontohkan Korea Selatan Sebagai Negara Dengan Visi Kuat

Filosofi Tukang Batu dan Pelajaran dari Sungai Han

Untuk memahami kekuatan sebuah visi, kita bisa meminjam analogi klasik tentang tiga orang tukang batu. Saat ditanya apa yang sedang mereka kerjakan, tukang batu pertama menjawab bahwa ia sekadar menyusun batu. Tukang batu kedua merasa dirinya sedang membangun sebuah tembok. Namun, tukang batu ketiga memiliki jawaban yang melampaui rutinitas kasarnya: ia meyakini bahwa dirinya sedang membangun sebuah rumah agung yang kelak akan melindungi banyak manusia dari badai.

Ketiganya melakukan pekerjaan yang sama, namun visi yang membedakan kaliber dedikasi dan kebesaran jiwa mereka.

Bukti empiris dari kekuatan visi ini pernah ditorehkan oleh Korea Selatan. Pada tahun 1995, para mahasiswa dan elemen bangsa di sana telah merajut visi kolektif: menjadikan negara mereka sebagai nomor satu di dunia pada tahun 2010. Demi visi tersebut, pada tahun 2005 rakyat Korea Selatan secara masif, kompak, dan sukarela membeli produk dalam negeri serta menyingkirkan dominasi produk asing. Hasilnya tak bisa dibantah; raksasa teknologi seperti Samsung kini merajai pasar global, mewujudkan visi yang dulu mungkin ditertawakan dunia.

Foto : Bung Ridho Menjelaskan Wajah Umat Islam Hari Ini

Kehilangan Arah: Realitas 2 Miliar Umat Islam Hari Ini

Bagaimana dengan umat Islam? Dalam ranah dakwah dan pendidikan, kita bisa menarik analogi serupa lewat kisah tiga ustaz pengajar Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Ada ustaz yang mengajar murni demi mendapatkan upah bulanan. Ada pula yang targetnya sekadar agar anak didiknya melek huruf hijaiyah. Namun, ada ustaz ketiga yang bergerak dengan visi peradaban mahabesar: ia sedang mencetak generasi penjaga kalamullah dan para imam yang kelak akan memimpin umat.

Kenyataannya hari ini, visi peradaban umat Islam yang komprehensif itu seolah tercerai-berai. Di atas kertas, jumlah umat Islam mencapai angka fantastis, yakni sekitar 2 miliar jiwa di seluruh belahan bumi. Namun, besarnya kuantitas ini tak sejalan dengan kualitas dan posisi tawarnya di kancah global.

Akar masalahnya dapat ditelusuri dari kepingan sejarah masa lalu. Sejak runtuhnya institusi politik Kekhalifahan Utsmani di tangan Mustafa Kemal pada tahun 1924, yang kemudian disusul oleh berdirinya entitas ilegal Israel di tanah Palestina pada tahun 1948, tubuh umat Islam tercabik-cabik. Umat yang dulunya bernaung di bawah satu visi, kini terkotak-kotak ke dalam lebih dari 50 negara bangsa. Sekat-sekat nasionalisme ini lahir dari rahim penjajahan, warisan dari desain geopolitik Perjanjian Sykes-Picot yang digambar oleh Inggris dan Prancis.

Dampak dari hilangnya visi peradaban yang menyatukan ini sangatlah tragis. Kita bisa melihat bagaimana jutaan saudara kita mulai dari Palestina, Kashmir, Rohingya, hingga Xinjiang kini terjebak dalam pusaran penindasan, penjajahan, dan ketidakberdayaan.

Kecacatan Sistem Global dan Urgensi Solusi Fundamental

Di saat umat Islam kehilangan visinya, sistem yang saat ini mendominasi dunia justru menunjukkan kecacatan yang kian telanjang. Kapitalisme global terbukti menciptakan jurang kesenjangan ekonomi yang menganga parah; yang kaya melesat tak terkejar, sementara yang miskin terus terpuruk dalam jerat kelaparan.

Kegagalan ini menjalar ke berbagai sendi kehidupan. Sistem pendidikan global hari ini dikritik karena lebih sering mencetak mesin-mesin pekerja bermental materialistis dan hedonis ketimbang manusia yang beradab. Hukum yang seharusnya menjadi panglima keadilan, justru tumpul ke atas dan tajam ke bawah sebuah ironi di mana para koruptor masih bisa menikmati fasilitas bak hotel mewah di balik jeruji besi. Belum lagi, derasnya arus westernisasi budaya terus menggerus moralitas dan menghancurkan tatanan sakral dalam institusi keluarga.

Oleh karena itu, ini adalah momentum paling krusial bagi umat Islam untuk merajut kembali visi peradaban mereka, sebuah visi yang berlandaskan pada kemurnian hukum-hukum Al-Qur'an.

Islam bukanlah sekadar agama ritual di pojok-pojok masjid, melainkan sebuah sistem ideologi dan jalan hidup (way of life) yang sangat komprehensif. Syariatnya mengatur segala dimensi kehidupan secara seimbang:

  • Hablum Minallah: Mengatur ketundukan vertikal manusia dengan Sang Pencipta.
  • Hablum Minannafsi: Mengatur urusan manusia dengan dirinya sendiri, mencakup akhlak, moral, dan integritas.
  • Hablum Minannas: Mengatur interaksi sosial, ekonomi, politik, dan keadilan hukum antarsesama manusia.

Pendekatan paripurna ini berdiri diametral dengan sistem kapitalisme yang memuja kebebasan pasar tanpa memedulikan pertanggungjawaban akhirat, atau sistem sosialisme-komunisme yang secara angkuh menolak eksistensi Tuhan.

Meskipun aturan Islam sangat menyeluruh, sejarah telah menjadi saksi bisu bahwa sistem pemerintahan Islam tidak pernah memaksa keyakinan atau memberangus hak-hak penganut agama lain. Islam menjamin kebebasan ibadah bagi umat beragama lain tanpa sedikit pun intervensi paksaan.

Kini, pertanyaannya kembali kepada kita. Apakah kita akan terus menjadi "tukang batu" yang hanya memikirkan urusan perut hari ini? Ataukah kita siap untuk mengambil peran yang lebih besar, membangun kembali visi yang kokoh, dan bersama-sama mendirikan "rumah peradaban" yang akan mengayomi seluruh umat manusia?