Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Karama XV UIN Raden Intan Lampung Ditutup di Malam Nuzulul Quran, Mahasantri Diingatkan Disiplin “Habit Santri”

Foto : Dokumentasi Nuzulul Quran UIN Raden Intan Lampung (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim -- Program Kampus Ramadan (Karama) XV yang digelar Ma’had Al Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung resmi ditutup pada malam Nuzulul Quran, bertepatan dengan 17 Ramadan 1447 H, di Masjid Safinatul Ulum, Bandar Lampung, Jumat (6/3/2026).

Prosesi penutupan dipimpin Wakil Rektor II UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Safari, M.Sos.I, mewakili Rektor. Di hadapan para mahasantri, Safari menegaskan bahwa keberhasilan program Ramadan bukan sekadar diukur dari ramainya agenda, melainkan dari kebiasaan baik (habit) yang tertanam dan bertahan setelah Ramadan lewat.

Safari mendorong mahasantri membangun tradisi yang identik dengan kultur pesantren: belajar, membaca buku atau kitab, serta dekat dengan masjid. “Habit anak pesantren itu belajar, membaca buku atau kitab. Lingkungannya juga dekat dengan masjid,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya melanjutkan budaya santri di lingkungan Ma’had Al Jami’ah, disertai pembentukan akhlakul karimah dalam praktik hidup harian bukan hanya slogan acara.

Sementara itu, Mudir Ma’had Al Jami’ah UIN Raden Intan Lampung, Dr. Ahmad Basyori, menyampaikan Karama XV berjalan selama 18 hari dengan rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk memakmurkan masjid dan memperkuat pembinaan spiritual mahasantri selama Ramadan.

“Kegiatan ini untuk meramaikan dan memakmurkan masjid. Orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang beriman kepada Allah,” kata Ahmad Basyori. Ia menambahkan, Karama merupakan program rutin tahunan, dan diharapkan membawa keberkahan bagi UIN Raden Intan Lampung serta Indonesia.

Pada sesi akhir, Wakil Rektor II, Mudir Ma’had Al Jami’ah, serta Wakil Dekan II Fakultas Syariah, Dr. Relit, memberikan apresiasi kepada mahasantri berprestasi selama Karama XV.

Daftar Penghargaan Karama XV

Tadarus Terbanyak

Asrama 1 Putri: Vidya Sara Hida Hasyim (11 kali khatam)

Asrama 1 Putra: Muhammad Faisal Apriansyah (5 kali khatam)

Asrama 2 Putri: Nayla Nasywa Abidah (2 kali khatam)

Asrama 2 Putra: Irham Yumiza (1 kali khatam)

Kultum Terbaik

Asrama 1: Suryadi

Asrama 2: Andika Kurnia, Afifah Khoirunnisa, Lili Yusefa

Buku Kultum Terbaik

Asrama 1: Anggun Rizkiana

Asrama 2: Vera Diana Sabila

Imam Terbaik

Asrama 1: Farhan Akkbar

Asrama 2: M. Ikbal Fahrurizal

Bilal Terbaik

Asrama 1: Fajri Fernandi

Asrama 2: Nauvaldo Firos

Cerpen Terbaik

Salwa Wahyuningtias

Video Kreatif Terbaik

Asrama 1: Anisa Nur Fadila

Santri Teladan

Asrama 1: Meila Tiffany Azzahra

Asrama 2: Afif

Selain itu, secara terpisah disampaikan capaian salah satu pengurus Ma’had Al Jami’ah, Nur Zamro’atus Solehah mahasiswa Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung yang berhasil mengkhatamkan 15 juz Al-Qur’an.

Foto : Dokumentasi Nuzulul Quran UIN Raden Intan Lampung (Ugy/filsafatmuslim.com)

Karama XV mengusung tema “Restart Iman, Upgrade Amal.” Program tahunan yang memasuki tahun ke-15 ini dilaksanakan di Asrama 1, Masjid Safinatul Ulum, serta Asrama 2 di Prasanti, dengan fokus pada penguatan spiritualitas, peningkatan kualitas ibadah, dan pembentukan karakter Islami. Rangkaian kegiatan meliputi buka puasa bersama, kultum, tarawih berjamaah, kajian tematik, tadarus Al-Qur’an, kajian Arbain Nawawi, kajian kitab kuning, daurah Al-Qur’an, tahajud, hingga daurah PPI.

Karama XV mengajarkan satu garis tegas dalam etika Islam: iman tidak cukup diucapkan ia harus dibuktikan sebagai kebiasaan.

Istiqamah: menjaga ritme ibadah dan belajar setelah Ramadan adalah ukuran kedewasaan ruhani.

Talabul ‘ilmi: tradisi membaca kitab dan menuntut ilmu adalah jalan memuliakan diri dan masyarakat.

Imarah al-masjid: memakmurkan masjid bukan sekadar hadir, tetapi menghidupkan nilai taqwa dan adab di dalamnya.

Tazkiyatun nafs: membentuk akhlakul karimah berarti membersihkan hati dari riya, malas, dan sikap meremehkan orang lain.

Ihsan: kualitas amal ditentukan oleh ketulusan bukan keramaian kegiatan, melainkan jejak baik yang terus hidup. (FM/Ugy)