Transformasi UKM Madani ITERA: Menjadikan Organisasi Sebagai "Rumah" dan Mengedepankan Kolaborasi Dakwah
Filsafat Muslim -- Kehidupan kampus tidak pernah lepas dari dinamika organisasi mahasiswa. Di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Madani (Mahasiswa Peradaban Islam) hadir sebagai salah satu pilar penting pembinaan karakter rohani mahasiswa. Kini, di bawah kepemimpinan Ali Rais Arifin, mahasiswa program studi Sains Atmosfer dan Keplanetan, Madani siap membawa angin segar dengan visi dan pendekatan yang lebih inklusif. (Lampung Selatan 08 maret 2026)
Sebagai Ketua Umum yang baru menjabat, Ali menyadari bahwa tantangan dakwah di era modern tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara kaku. Ia mengusung serangkaian inovasi, mulai dari merombak fungsi sekretariat hingga memperkuat kolaborasi lintas himpunan.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai arah gerak UKM Madani ITERA di bawah kepemimpinan Ali Rais Arifin.
1. Visi Mewujudkan Madani Sebagai "Rumah"
Salah satu indikator keberhasilan yang paling ingin dicapai Ali di akhir periode kepengurusannya adalah mewujudkan Madani sebagai tempat beristirahat yang nyaman bagi para anggotanya.
"Visi utamanya adalah mengembangkan Madani sebagai sebuah rumah. Indikator paling konkretnya adalah mewujudkan Sekretariat Madani di RIMA agar benar-benar bisa menjadi tempat beristirahat," ungkap Ali.
Melalui perombakan sekretariat ini, Ali berharap anggota dapat menjalin ukhuwah yang lebih erat. Ia menekankan bahwa ikatan emosional tidak melulu harus dibentuk lewat rapat formal, melainkan bisa tumbuh subur melalui bincang-bincang santai di sekretariat yang nyaman.
2. Menjawab Isu Kampus Melalui Kolaborasi Besar
Sebagai kampus besar dengan mahasiswa yang plural, gerakan dakwah Islam di ITERA seringkali masih berjalan sendiri-sendiri. Menjawab isu ini, Ali tidak hanya mengandalkan program kerja internal yang kaku, melainkan mendorong kolaborasi skala kampus.
Salah satu langkah nyatanya adalah mengambil peran aktif dalam kepanitiaan Rapat Tera, sebuah inisiatif untuk menyatukan seluruh mahasiswa muslim di kampus. Kepanitiaan ini dipimpin langsung oleh Kepala Divisi Syiar Madani, Muhammad Ahsan Sanjaya Adiwibowo.
Selain itu, di awal kepengurusan, Madani juga menginisiasi sebuah forum yang mengumpulkan divisi kerohanian dari berbagai himpunan mahasiswa.
• Tujuan utama forum: Membahas kerja sama antar himpunan dan menegaskan posisi Madani sebagai wadah pendorong dakwah kampus.
• Dampak yang diharapkan: Pergerakan dakwah Islam di ITERA dapat tersebar merata dan tidak lagi terkotak-kotak di masing-masing himpunan.
3. Program Al-Qur'an: Identitas Utama UKM Madani
Setiap organisasi tentu membutuhkan program unggulan yang menjadi ciri khasnya. Untuk periode ini, Ali membangkitkan kembali program Al-Qur'an secara masif sebagai nilai jual dan pembeda Madani dengan UKM lainnya.
Program ini dirancang sangat ramah bagi semua kalangan mahasiswa, dan dibagi menjadi dua fokus utama:
• Setoran Hafalan: Mewadahi mahasiswa yang ingin menjaga dan menambah hafalan Al-Qur'an mereka di tengah kesibukan kuliah.
• Tahsin Dasar: Membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa yang baru ingin belajar membaca Al-Qur'an dari dasar, tanpa perlu merasa tertinggal.
4. Tantangan Internal: Mengatasi Anggota yang "Hilang"
Manajemen waktu selalu menjadi momok di setiap organisasi mahasiswa. Kesibukan kuliah dan keanggotaan ganda di organisasi lain sering membuat anggota Madani menghilang tanpa kabar (ghosting). Untuk mengatasi hal ini, Ali menerapkan gaya kepemimpinan yang lebih personal.
Ali lebih memilih memperbanyak pertemuan offline non-formal untuk menanamkan rasa memiliki (sense of belonging). "Jika seseorang sudah menganggap suatu organisasi itu penting, secara tidak langsung ia akan memprioritaskannya," jelas Ali.
Jika ada anggota pengurus inti yang mulai pasif, Ali akan melakukan pendekatan empatik secara langsung. Namun, ia juga bertindak tegas. Apabila anggota tersebut memang sudah tidak sanggup berkomitmen, Ali mempersilakan mereka untuk mundur.
"Saya lebih mencari anggota yang sedikit tapi efektif, daripada banyak tapi sering hilang-hilangan." – Ali Rais Arifin
Sebagai langkah pencegahan ke depan, Madani kini memperketat sistem kaderisasi dan rekrutmen. Nilai jual seperti program Al-Qur'an ditegaskan sejak awal, sehingga mereka yang mendaftar dan dilantik benar-benar memiliki komitmen dan niat yang lurus untuk berkontribusi.
Dengan visi yang jelas, pendekatan kolaboratif, dan gaya kepemimpinan yang humanis namun tegas, UKM Madani ITERA di bawah komando Ali Rais Arifin siap menjadi rumah bernaung yang nyaman sekaligus motor penggerak peradaban Islam yang inklusif di lingkungan kampus. (FM/Ugy)
