Mengangkat Derajat Singkong: Sinergi Itera dan Pemkab Pringsewu Wujudkan Kemandirian Ekonomi Desa Melalui Inovasi Mocaf
Filsafat Muslim -- Lampung Selatan 23 Juli 2026, Langkah strategis kembali diambil guna memaksimalkan potensi komoditas lokal nusantara. Kali ini, Institut Teknologi Sumatera (Itera) menjalin sinergi erat dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pringsewu untuk mengakselerasi produksi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf). Kolaborasi berbasis riset ini bukan sekadar proyek akademis, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk menghilirisasi komoditas singkong agar memiliki daya jual tinggi, yang pada gilirannya akan menjadi tulang punggung penguatan ekonomi di tingkat desa.
Fokus utama dari kerja sama ini bertumpu pada modernisasi sistem produksi, eskalasi mutu tepung mocaf, serta pendampingan teknologi secara intensif kepada masyarakat. Komitmen tersebut dikukuhkan dalam sebuah audiensi antara Bupati Pringsewu, H. Riyanto Pamungkas, dan Rektor Itera, Prof. Dr. Apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., yang diselenggarakan di Ruang Rapat Besar Gedung A Itera pada Selasa, 21 Juli 2026.
Pertemuan strategis ini turut dihadiri jajaran pimpinan kedua belah pihak. Dari pihak Itera, hadir Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Hadi Teguh Yudistira, S.T., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Ir. M. Bobby Rahman, S.T., M.Si. (Han.), Ph.D., jajaran dekan, serta Kepala BAPU Eko Feri Kurniawan, S.Si., M.Si. Sementara itu, delegasi Pemkab Pringsewu diperkuat oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Hendrid, S.E., M.M., Kepala Bapperida Dr. Imam Fatkuroji, S.STP., M.IP., Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian Sulistyoningsih, S.E., M.M., Kepala Dinas Pertanian Maryanto, S.Pt., Ketua Koperasi Muharam Nurdian, serta didampingi pula oleh Guru Besar Universitas Jember, Prof. Ahmad Subagio.
Hilirisasi Riset: Dari Laboratorium ke Ruang Geliat Masyarakat
Bagi Itera, singkong bukanlah sekadar tanaman palawija biasa, melainkan komoditas emas yang menyimpan potensi keekonomian luar biasa jika diolah dengan presisi ilmu pengetahuan. Rektor Itera, Prof. Elfahmi, menekankan bahwa institusinya telah lama melakukan berbagai riset hilirisasi untuk mengubah singkong menjadi aneka produk turunan bernilai tambah, dengan mocaf sebagai salah satu primadonanya.
“Kekayaan sumber daya alam Lampung membutuhkan sentuhan penelitian dari perguruan tinggi agar potensinya tidak mengendap, melainkan memberikan dampak yang konkret dan positif bagi masyarakat,” tegas Prof. Elfahmi.
Beliau menggarisbawahi bahwa kesuksesan hilirisasi adalah buah dari kolaborasi lintassektor melibatkan akademisi, pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat luas. Dalam kemitraan ini, Itera memposisikan diri sebagai katalisator industri mocaf di Pringsewu. Pendampingan yang diberikan mencakup transfer pengetahuan, edukasi, hingga intervensi teknologi guna mendongkrak efisiensi dan daya saing produksi. Lebih jauh, Itera optimistis inovasi mocaf ini akan memicu lahirnya ragam produk turunan singkong lainnya di masa depan.
Mocaf Sebagai Mesin Penggerak Ekonomi Desa
Visi senada juga disuarakan oleh Bupati Pringsewu, H. Riyanto Pamungkas. Pemerintah daerah saat ini tengah memacu hilirisasi mocaf untuk dijadikan mesin penggerak perekonomian di akar rumput. Melalui inisiatif bertajuk Kelompok Usaha Mocaf (Kompak), Pemkab Pringsewu mematok target ambisius: setiap desa harus memiliki sekurang-kurangnya satu unit usaha ekonomi yang digerakkan oleh komoditas mocaf.
Hingga saat ini, lanskap produksi mocaf di Pringsewu masih digerakkan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dengan dua sentra usaha utama yang telah beroperasi. Namun, inovasi selalu membawa tantangannya tersendiri.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah memenuhi standar pasar yang menuntut tepung mocaf berkualitas super dengan tingkat kehalusan mesh 100. Untuk mencapai titik tersebut, kita sangat membutuhkan intervensi teknologi pengolahan dari Itera, khususnya pada tahapan teknologi penyaringan (sieving), agar kapasitas dan kualitas produksi dapat meningkat tajam,” urai Riyanto.
Melalui sinergi lintas institusi ini, Itera dan Pemkab Pringsewu berdiri di garda terdepan untuk membuktikan bahwa riset inovatif yang membumi adalah kunci utama dalam melipatgandakan nilai tambah komoditas lokal, membangun kemandirian ekonomi desa, dan meretas jalan menuju kesejahteraan masyarakat yang merata.
Refleksi Nilai Islami: Ta'awun dan Mensyukuri Karunia Alam
Sinergi yang terbangun antara Itera dan Pemerintah Kabupaten Pringsewu ini menyimpan makna yang sangat mendalam dari kacamata nilai-nilai keislaman, di antaranya:
• Semangat Ta'awun (Tolong-menolong dalam Kebaikan): Islam sangat menganjurkan kolaborasi yang membawa kemaslahatan umat. Bantuan teknologi dari akademisi (Itera) kepada pemerintah dan masyarakat (Pringsewu) merupakan wujud nyata dari ta'awun 'alal birri wat taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa). Ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk mengangkat derajat ekonomi mereka yang sedang berjuang di akar rumput.
• Mensyukuri Nikmat Alam (Tasyakkur bin Ni'mah): Singkong adalah rezeki dan anugerah sumber daya alam yang dititipkan Allah SWT. Mengolahnya secara asal-asalan berarti menyia-nyiakan potensi titipan-Nya. Sebaliknya, mengerahkan akal budi dan riset untuk mengolah singkong menjadi tepung mocaf bernilai tinggi adalah bentuk rasa syukur (syukur bil fi'il atau syukur melalui perbuatan). Kita diamanahkan untuk mengelola bumi (khalifah fil ardh) dengan sebaik-baiknya tanpa membuat kerusakan.
• Pemberdayaan Ekonomi (Mengentaskan Kemiskinan): Mendorong perekonomian desa agar masyarakat menjadi mandiri dan sejahtera sangat sejalan dengan visi Islam dalam mengentaskan kemiskinan (membantu kaum mustadhafin). Kemandirian ekonomi akan menjaga kehormatan seorang muslim dan menjauhkannya dari kefakiran, sehingga roda kehidupan bermasyarakat dapat berjalan dengan penuh keberkahan dan kedamaian. (Ugy/FM)

