Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Jurnal Ilmiah Menuju Etalase Industri: Langkah Nyata Itera Pacu Hilirisasi Inovasi

Foto : Dokumentasi Percepatan Komersialisasi Hasil Riset Itera Juli 2026 (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim -- Lampung Selatan 23 Juli 2026, Inovasi dan riset di lingkungan perguruan tinggi tidak semestinya hanya berakhir sebagai tumpukan kertas publikasi di perpustakaan. Mengusung urgensi tersebut, Institut Teknologi Sumatera (Itera) saat ini tengah mengakselerasi proses komersialisasi hasil penelitian dari para dosen dan mahasiswa. Langkah strategis ini ditempuh untuk mewujudkan hilirisasi teknologi yang tidak sekadar bernilai akademis, melainkan mampu menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Komitmen ini ditegaskan secara lugas oleh Rektor Itera, Prof. Dr. Apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dalam forum Workshop Transfer Teknologi yang difasilitasi oleh Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Itera. Beliau memaparkan bahwa arah kebijakan riset di kampus tersebut kini berorientasi penuh pada penciptaan produk yang implementatif dan siap dimanfaatkan oleh sektor industri.

“Penelitian di Itera terus berkembang dan telah meraih kepercayaan pendanaan dari berbagai pihak. Target kami ke depan sangat jelas: memastikan riset-riset ini bertransformasi menjadi produk komersial yang mampu menopang perekonomian Indonesia,” tegas Prof. Elfahmi.

Beliau turut menggarisbawahi bahwa penguasaan ilmu pengetahuan adalah kunci pembuka bagi lahirnya inovasi yang bernilai ekonomi tinggi. Kapasitas dosen dan mahasiswa yang mumpuni diyakini akan mempermudah perwujudan riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi sukses memberi nilai tambah yang masif bagi masyarakat.

Dukungan terhadap visi hilirisasi ini tercermin dari kesiapan sumber daya yang dimiliki Itera. Kepala LPMPP Itera, Dr. Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, S.Si., M.Si., menyajikan data konkret terkait potensi besar institusinya. Dengan didukung oleh sekitar 700 dosen dan lebih dari 22.000 mahasiswa, Itera melalui Pusat Implementasi Inovasi (PII) telah menginventarisasi 62 paten yang dinilai sangat berpeluang untuk dikomersialkan. Fakta menggembirakan lainnya, pada tahun 2026 ini, terdapat enam invensi karya sivitas akademika Itera yang telah sukses memenangkan pendanaan khusus guna mempercepat proses hilirisasi.

Kendati demikian, jalan menuju komersialisasi riset bukanlah tanpa hambatan. Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Edi Hilmawan, B.Eng., M.Eng., yang hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut, memaparkan realita empiris di lapangan. Ia membagikan sebuah data yang patut menjadi refleksi bersama: dari sekitar 6.000 paten yang bernaung di bawah BRIN, tercatat baru sekitar 170 paten (atau sekitar 3 hingga 4 persen) yang berhasil dilisensikan kepada pihak industri.

Menurut Dr. Edi, angka tersebut menjadi bukti empiris bahwa masih banyak temuan ilmiah yang kehilangan nilai guna karena terputus dari rantai kebutuhan pasar. Ia mengidentifikasi berbagai tantangan utama yang sering menjegal hilirisasi, mulai dari tingkat kesiapan teknologi, ketidaksesuaian dengan orientasi pasar, keterbatasan pendanaan lanjutan, kendala regulasi dan sumber daya manusia, hingga kualitas kolaborasi yang belum optimal.

Menyikapi hal tersebut, BRIN terus mendorong terbentuknya ekosistem inovasi yang kuat. Diperlukan sinergi yang solid dan berkesinambungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, pelaku industri, pemerintah, hingga kalangan investor. Kolaborasi terintegrasi ini menjadi syarat mutlak untuk mempercepat hilirisasi riset, yang pada akhirnya akan mendongkrak nilai tambah produk, meningkatkan daya saing industri nasional, serta membawa kebermanfaatan yang nyata bagi kehidupan masyarakat luas.

Refleksi Nilai Islami: Merealisasikan Ilmu yang Bermanfaat (Ilmu Naafi')

Upaya untuk menghilirisasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan riset sejatinya sangat selaras dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Dalam Islam, ilmu yang memiliki kedudukan paling mulia adalah ilmu yang diamalkan dan mampu mendatangkan maslahat (kebaikan) bagi umat manusia. Prinsip ini merefleksikan sabda Rasulullah Muhammad SAW, yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain (Khairunnas anfa'uhum linnas).

Ketika temuan ilmiah, paten, dan riset dari kalangan akademisi tidak disembunyikan, melainkan dikembangkan menjadi produk industri yang menyelesaikan masalah umat, karya tersebut bertransformasi menjadi ilmu yang bermanfaat. Ini adalah satu dari tiga amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun sang peneliti kelak telah tiada.

Lebih dari itu, kolaborasi para akademisi, industri, dan pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa merupakan bentuk nyata implementasi peran manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin dan pengelola di muka bumi). Kita diamanahkan oleh Allah SWT untuk memakmurkan bumi melalui kerja keras, integritas, dan penguasaan sains yang selalu dilandasi oleh semangat memberi kebermanfaatan bagi semesta (rahmatan lil 'alamin). (Ugy/FM)