Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

“Diam Ditindas atau Bangkit Melawan”: Manifesto Kekecewaan Publik di Balik Gerbang Kampus

Deretan spanduk bernada protes membentang di Kawasan gerbang perbatasan dan area sekitar Gedung ITERA Training Center di Kabupaten Lampung Selatan

Lampung Selatan, Filsafat Muslim — Kawasan gerbang perbatasan dan area sekitar Gedung ITERA Training Center di Kabupaten Lampung Selatan mendadak riuh oleh pesan perlawanan. Deretan spanduk bernada protes membentang, merebut perhatian di ruang publik dengan kalimat-kalimat yang lugas dan tajam: “DIAM DITINDAS ATAU BANGKIT MELAWAN!”, “REFORMASI DIKEBIRI”, “JANGAN DIAM LAWAN”, hingga “SERUKAN DAN SEGERAKAN KONSOLIDASI!”, kamis (22/10/2026).

Spanduk-spanduk ini bukan sekadar kain bertinta. Ini adalah manifestasi keresahan kolektif terhadap realitas sosial dan arah kebijakan penguasa baik di tingkat nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, maupun di lingkup Pemerintah Provinsi Lampung. Lebih dari sekadar kritik, bentangan protes ini memuat ajakan mendesak agar masyarakat dan mahasiswa keluar dari zona apatis media sosial dan mulai membangun kekuatan massa di dunia nyata.

Ahmad Risky, mahasiswa Program Studi Sains Data Institut Teknologi Sumatera (ITERA), menyoroti fenomena kritisisme modern yang kerap mandek di layar gawai. Baginya, riuhnya keluh kesah masyarakat di media sosial adalah langkah awal, namun jauh dari cukup untuk melahirkan sebuah perubahan konkret.

“Hampir semua orang melihat apa yang sedang terjadi dan hampir semuanya juga mem-posting di Insta Story. Tapi revolusi atau perubahan itu tidak terjadi di Insta Story,” tegas Ahmad. Ia meyakini bahwa aspirasi digital tersebut harus segera dikonversi menjadi pergerakan langsung di jalanan.

Meski begitu, Ahmad sadar betul bahwa romantisasi aksi turun ke jalan tanpa barisan yang solid adalah sebuah kesia-siaan. Kunci dari perubahan yang dituntut adalah konsolidasi. Pergerakan yang sporadis dan terpisah hanya akan melemahkan daya gedor mahasiswa. "Kalau bergerak dan turun ke jalannya masing-masing juga percuma. Tuntutan kita sama, harapan kita sama, maka jawabannya adalah bergerak bersama melalui aksi massa," ungkapnya.

Melalui pergerakan ini, pesan tajam tidak hanya dilayangkan kepada rekan sesama mahasiswa, tetapi juga diantarkan langsung ke meja para pemangku kebijakan, terkhusus Pemerintah Provinsi Lampung. Tuntutan mereka agar pemerintah menanggalkan arogansi kekuasaan disuarakan dengan jelas. "Pesan untuk gubernur: pertama, semoga mereka melihat dan mendengar. Kedua, semoga mereka berbesar hati untuk evaluasi diri dan punya kemauan untuk melaksanakannya," tambah Ahmad.

Lebih dari sekadar menagih janji penguasa, kehadiran spanduk protes ini adalah sebuah tamparan kesadaran bagi masyarakat awam. Ahmad mengingatkan bahwa kestabilan yang terlihat di permukaan sering kali hanyalah ketenangan semu yang dipaksakan. Spanduk tersebut sengaja dipasang agar publik yang melintas di kawasan Lampung Selatan tidak menutup mata terhadap ketidakadilan sosial yang mengepung mereka.

“Apalagi kan tulisannya 'diam ditindas atau bangkit melawan'. Semua orang mengira kita sedang baik-baik saja, padahal sebenarnya kita hanya terpaksa untuk baik-baik saja,” pungkasnya menohok.

Meski rincian tuntutan spesifik terhadap kebijakan pusat maupun daerah masih terus dirumuskan, spanduk di kawasan kampus ITERA tersebut telah memercikkan bara perlawanan. Ini adalah sebuah undangan terbuka bagi siapa saja yang masih peduli, bahwa konsolidasi adalah jalan satu-satunya saat ruang demokrasi mulai terasa pengap.