Membangun Masa Depan Berkelanjutan: Itera Jadi Episentrum Inovasi Teknik Industri se-Sumatera
![]() |
| Pertemuan Tahunan Badan Kerja Sama Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri (BKSTI) Koordinator Wilayah Sumatera 2 di Itera |
Lampung Selatan, Filsafat Muslim — Institut Teknologi Sumatera (Itera) kembali menjadi titik temu para pemikir strategis. Pada Kamis (22/10/2026), Aula Gedung Kuliah Umum 2 Itera dipenuhi oleh puluhan akademisi dan praktisi yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri (BKSTI) Koordinator Wilayah Sumatera 2.
Pertemuan tahunan ini mengusung agenda besar bertajuk “Inovasi Teknik Industri untuk Ekonomi Biru dan Hijau Sumatera”. Bukan sekadar forum diskusi, acara ini menjadi ruang konsolidasi untuk menjawab realitas pertumbuhan dunia akademik di kawasan tersebut.
Ketua Pelaksana, Muhammad Iqbal, S.T., M.M., mencatat adanya lonjakan signifikan jumlah program studi Teknik Industri di wilayah Sumatera 2, dari 33 prodi pada 2023 menjadi 41 prodi saat ini. "Pertumbuhan ini harus diimbangi dengan pemerataan mutu pendidikan," tegasnya. Untuk mencapai hal tersebut, BKSTI mendorong kolaborasi antar-kampus, memfasilitasi pertukaran praktik baik dari universitas unggul seperti Universitas Andalas dan Universitas Muhammadiyah Palembang, serta melibatkan mahasiswa secara langsung.
Menyambung urgensi tersebut, Ketua BKSTI Wilayah Sumatera 2, Prof. Fitra Lestari Norhiza, menekankan bahwa disiplin keilmuan ini harus bertumpu pada tiga pilar utama: berpusat pada manusia, berkelanjutan, dan tangguh. Penerapan ketiga pilar ini mutlak membutuhkan dukungan kecerdasan buatan dan teknologi digital. Ia juga berharap forum Musyawarah Wilayah yang digelar bersamaan dapat melahirkan kepengurusan baru yang solid dan memberi ruang lebih bagi dosen-dosen muda.
Sebagai tuan rumah, Itera menyambut baik gagasan kolaborasi ini. Mewakili Rektor, Dekan Fakultas Teknologi Industri Itera, Hafiz Budi Firmansyah, Ph.D., memaparkan bahwa di usianya yang ke-12 tahun, kampusnya kini menaungi lebih dari 22.000 mahasiswa dan 700 dosen. Forum BKSTI ini diharapkan menjadi pintu gerbang kerja sama riset, pertukaran sivitas akademika, dan penguatan kemitraan dengan industri.
![]() |
| Pertemuan di hadiri puluhan akademisi dan praktisi yang tergabung dalam (BKSTI) Koordinator Wilayah Sumatera 2 |
Substansi seminar menukik tajam pada isu-isu krusial masa depan, dipandu oleh Rinda Gusvita, S.TP., M.Sc. Menghadirkan tiga pembicara kunci, diskusi ini membedah bagaimana pendekatan teknik industri bisa menjadi solusi nyata.
Guru Besar Teknik Industri Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Akhmad Hidayatno, mengingatkan bahaya pola pikir yang parsial. Membawakan topik "Industrial Engineering in the Age of Systems", ia menyoroti tren di mana lulusan teknik kerap mengoptimalkan sebagian kecil komponen tanpa melihat batasan sistem secara utuh.
"Akibatnya, mereka berisiko memberikan jawaban yang benar untuk masalah yang salah," paparnya. Ia mencontohkan kebijakan biodiesel: berdasarkan model simulasi, jika persentase campuran melampaui 51,3 persen, pasokan minyak goreng nasional justru bisa defisit. Karena itu, pemikiran sistematis yang mencakup proses, komponen, hubungan, dan konteks harus menjadi fondasi mahasiswa sebelum mereka bergantung pada kecerdasan buatan.
Dari kacamata praktisi, Vice President Decarbonization Business Development PLN, Ir. Ricky Cahya Andrian, memaparkan peta jalan dekarbonisasi sebagai jembatan menuju ekonomi biru dan hijau. Mewujudkan target emisi nol bersih pada 2060 tidaklah murah, butuh pendanaan hingga Rp28.273 triliun. Namun, langkah nyata sudah berjalan. Ia merinci sejumlah inisiatif strategis PLN, mulai dari pembangkit listrik hibrida di Belitung, pemanfaatan biomassa di PLTU Rembang, teknologi serapan karbon lewat mikroalga, hingga elektrifikasi perahu nelayan dan penyediaan ribuan stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKLU).
Diskusi semakin lengkap dengan pemaparan inovasi material oleh Wakil Rektor Itera, Ir. Hadi Teguh Yudistira, Ph.D., yang hadir secara daring. Lewat materi "Sustainable Metamaterial", ia membedah potensi material buatan yang strukturnya bisa direkayasa untuk menghasilkan sifat tertentu. Menggunakan metode pencetakan electrohydrodynamic inkjet yang presisi pada skala mikrometer, metamaterial ini memiliki masa depan menjanjikan di bidang teknologi siluman, sensor cerdas, pemanen energi, hingga riset logam tanah jarang yang kini sedang dikembangkan Itera.
Di luar panggung utama, pertemuan BKSTI ini juga mewadahi langkah konkret lainnya. Sekitar 68 dosen dari 20 kampus ikut serta dalam agenda kunjungan industri, sesi penyelarasan kurikulum, hingga pengabdian kepada masyarakat di Pulau Pahawang. Semangat inovasi ini pun ditularkan ke 200 mahasiswa lewat kompetisi karya tulis. Rangkaian acara ini menjadi bukti bahwa teknik industri masa kini bukan sekadar urusan efisiensi pabrik, melainkan garda terdepan dalam mendesain masa depan yang berkelanjutan.

.jpeg)