Merasa Hidup "Gini-Gini Aja"? Menguak Misteri Puncak Kehidupan di Balik Pesan "Semua Ada Masanya"
![]() |
| Foto : Kajian Rumah Inspirasi (Rubin) bertajuk "Semua Ada Masanya" yang dipandu Bung Ridho |
Bandar Lampung, Filsafat Muslim — Pernahkah Anda terbangun di pagi hari, menatap langit-langit kamar, dan merasa hidup sedang tak punya arah? Atau bergumam dalam hati, "Kok hidup rasanya cuma gini-gini aja?" Di tengah rutinitas yang monoton bangun, bekerja, kuliah, lalu tidur lagi pertanyaan eksistensial tentang tujuan hidup sering kali menghampiri tanpa permisi.
Menjawab kegelisahan batin manusia modern ini, sebuah oase pemikiran tersaji hangat dalam Kajian Rumah Inspirasi (Rubin) bertajuk "Semua Ada Masanya" pada Jumat malam (2/10/2026).
Bertempat di Jalan Raden Saleh, Way Huwi, tepat di depan Masjid Miftahul Huda, acara ini memantik rasa penasaran banyak pihak. Tidak hanya dihadiri oleh masyarakat umum, diskursus ini nyatanya turut menarik perhatian kalangan akademisi, termasuk para dosen Teknik Kelautan. Dipandu oleh pemateri inspiratif, Bung Ridho, forum ini mengajak pesertanya untuk berhenti sejenak dari bisingnya dunia dan melihat "peta kehidupan" dari sudut pandang yang jauh lebih luas.
![]() |
| Foto : Bung Ridho menjelaskan materi tentang ilusi waktu |
Ilusi Waktu dan Titik Akhir yang Pasti
Manusia sejatinya hidup di atas rel fase yang sarat akan batas. Dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga menua, setiap etape pasti akan berujung pada satu gerbang mutlak: kematian. Namun, Bung Ridho melemparkan pertanyaan menohok malam itu, "Apakah kita akan melewati fase-fase itu dengan flat begitu saja tanpa makna? Apakah goals kita sekadar IPK besar, pekerjaan bonafid, atau meraih jabatan semata?"
Secara logis, kehidupan manusia direpresentasikan dalam dua titik. Titik hijau sebagai hari kelahiran yang kita ketahui pasti tanggalnya, dan titik merah sebagai hari kematian yang mewujud menjadi misteri terbesar semesta.
Tragedinya, banyak manusia tertipu oleh ilusi waktu. Merasa umur masih panjang, banyak dari kita menganggap remeh teguran Tuhan dan menunda-nunda perbaikan diri. Padahal, kematian tidak pernah menunggu kita siap, tidak pula mengurutkan antrean berdasarkan abjad atau usia.
"Jika jarak waktu hidup kita di dunia dibandingkan dengan garis waktu keabadian setelah mati, kehidupan dunia ini tidak ada bandingannya. Waktu kita di dunia ini teramat sebentar, namun apa yang kita lakukan di waktu yang sebentar ini memiliki impact (dampak) untuk waktu yang selama-lamanya," papar Bung Ridho di hadapan jamaah.
![]() |
| Foto : Bung Ridho menunjukan ilustrasi garis waktu kehidupan manusia |
Bukan Sekadar "Mati Lalu Selesai"
Bagi mereka yang menganggap bahwa penderitaan hidup akan berakhir saat napas berhenti, Bung Ridho memberikan sebuah bantahan telak. "Jangan dikira mati selesai. Tidak sesederhana itu, Ferguson," kelakarnya yang disambut senyum jamaah, sebelum kembali membawa suasana menjadi hening dan reflektif.
Kematian, pada hakikatnya, barulah langkah pertama menuju peta perjalanan yang sesungguhnya. Manusia masih harus melewati fase-fase epik nan mendebarkan: mulai dari kesendirian di alam Barzakh, kebangkitan setelah tiupan sangkakala, hingga berkumpul di Padang Mahsyar.
Di Padang Mahsyar kelak, hiruk-pikuk manusia akan mencapai puncaknya, namun paradoksnya, setiap individu akan merasa sangat sendirian. Tidak akan ada lagi waktu untuk sekadar menoleh atau memikirkan orang lain, sebab setiap jiwa akan terlalu sibuk memikirkan nasib amalnya masing-masing di hadapan timbangan keadilan Tuhan (Mizan).
Kebangkrutan Sejati (Muflis): Hati-hati dengan Hak Manusia
Satu hal yang paling membetot kesadaran dalam kajian tersebut adalah peringatan tentang dosa antarsesama. Jika maksiat kepada Tuhan masih membuka pintu pertaubatan langsung, maka kezaliman terhadap sesama manusia adalah beban utang yang mengerikan.
Bung Ridho mencontohkan kondisi Muflis atau kebangkrutan sejati di akhirat. Seseorang bisa saja datang dengan segunung pahala ibadah. Namun, jika semasa hidupnya ia gemar menyakiti hati orang lain, mengambil hak orang, dan belum meminta maaf, maka pahalanya akan dikuras habis untuk "membayar" kerugian orang-orang yang dizaliminya tersebut. Jika pahalanya habis, dosa korbannya akan ditimpakan kepadanya. Sebuah regulasi keadilan mutlak yang sering kali luput dari kalkulasi manusia hari ini.
![]() |
| Foto : Bung Ridho menjelaskan sosok oranng yang cerdas menurut pandangan Islam |
Mendefinisikan Ulang Kecerdasan
Di akhir pemaparannya, Bung Ridho merekonstruksi ulang definisi kecerdasan. Di tengah dunia yang mendewakan IQ tinggi, gelar mentereng, atau kehebatan berdebat, kecerdasan sejati rupanya memiliki tolok ukur yang berbeda.
Mengutip sabda Rasulullah SAW, beliau menegaskan: "Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik dalam mempersiapkan kehidupan setelah mati."
Kajian di Jumat malam itu menyisakan perenungan yang tertinggal lama di benak peserta. Bagi Anda yang hari ini merasa hidupnya kehilangan arah, mungkin tujuannya tidak pernah hilang, melainkan perspektif kitalah yang terlalu sempit. Hidup memang "ada masanya". Namun apa yang kita pilih dan kerjakan di masa yang sangat singkat ini, akan menjadi gema abadi di masa yang tak terbatas kelak.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)