Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menuju Sidang Formatur, KMHDI Lampung Kawal Kepemimpinan Berbasis Amanah dan Idealisme

Foto : Dokumentasi Mahasabha XIV KMHDI, KMHDI Lampung (Ugy/filsafatmuslim.com)

Filsafat Muslim -- Menjelang Sidang Formatur Pemilihan Ketua Umum dalam Mahasabha XIV KMHDI, KMHDI Lampung menegaskan komitmennya untuk mengawal arah perjuangan organisasi agar tetap berpijak pada idealisme, etika, dan tanggung jawab kolektif.

Bagi KMHDI Lampung, Mahasabha bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, Mahasabha adalah ruang penentuan arah sejarah gerakan, tempat organisasi menegaskan kembali jati dirinya sebagai organisasi kader sekaligus organisasi perjuangan. Dalam kerangka itu, kepemimpinan tidak cukup hanya dimenangkan secara prosedural, tetapi juga harus sah secara moral.

Dalam pandangan yang sejalan dengan tradisi filsafat Muslim, kepemimpinan adalah amanah, bukan alat pemuas ambisi. Seorang pemimpin lahir bukan semata karena kehendak untuk berkuasa, melainkan karena kelayakan akhlak, kejernihan visi, dan kesetiaan pada tujuan bersama. Karena itu, KMHDI Lampung memandang bahwa figur yang layak memimpin organisasi haruslah kader yang memiliki rekam jejak perjuangan, menjaga idealisme, dan berpihak utuh pada kepentingan KMHDI, bukan pada kepentingan kelompok atau dirinya sendiri.

KMHDI Lampung menegaskan akan berdiri bersama kader-kader yang berjuang untuk marwah organisasi. Dukungan harus diberikan kepada mereka yang memaknai kepemimpinan sebagai pengabdian, bukan kepada pihak yang menjadikan organisasi sebagai kendaraan kepentingan pribadi, ruang transaksi, atau tangga menuju kekuasaan.

Sikap ini berangkat dari keyakinan bahwa organisasi yang besar tidak dibangun oleh pragmatisme, melainkan oleh adab dalam berjuang dan keadilan dalam memimpin. Dalam khazanah pemikiran Islam, kekuasaan yang lepas dari etika hanya akan melahirkan kerusakan, sementara kepemimpinan yang dituntun hikmah akan melahirkan ketertiban dan kemaslahatan. Karena itu, setiap praktik politik transaksional, manuver kepentingan, dan langkah-langkah pragmatis yang mencederai nilai dasar organisasi harus ditolak secara tegas.

Mahasabha XIV, dengan demikian, tidak boleh direduksi menjadi arena perebutan posisi. Forum ini harus menjadi momentum untuk memastikan bahwa KMHDI tetap tegak sebagai organisasi perjuangan yang setia pada cita-cita kaderisasi, nilai pengabdian, dan tanggung jawab moral terhadap masa depan organisasi.

KMHDI Lampung menilai, kemenangan sejati dalam Sidang Formatur bukan sekadar lahirnya seorang ketua umum baru, melainkan terjaganya arah gerak organisasi dari penyimpangan nilai. Sebab ketika idealisme ditukar dengan kepentingan sesaat, maka yang hilang bukan hanya marwah kepemimpinan, tetapi juga ruh perjuangan itu sendiri.

Atas dasar itu, KMHDI Lampung menegaskan sikap: Mahasabha XIV harus melahirkan kepemimpinan yang berakar pada amanah, dituntun oleh hikmah, dan dijalankan demi kemaslahatan organisasi. KMHDI harus tetap berdiri sebagai organisasi perjuangan, bukan organisasi kepentingan. (Ugy/FM)