Agen Perubahan atau Sekadar Jargon? Menakar Ulang Gerakan Mahasiswa Hari Ini
Filsafat Muslim -- Bandar Lampung, 26 April 2026, Gerakan mahasiswa dinilai perlu memperkuat arah perjuangan agar tidak berhenti pada aksi yang bersifat reaktif. Konsistensi, kajian, konsolidasi, dan pengawalan isu jangka panjang disebut menjadi kunci agar gerakan mahasiswa tetap memiliki daya tekan dan relevansi di tengah perubahan sosial politik saat ini.
Pandangan tersebut disampaikan Khairil Ambri, mahasiswa Universitas Lampung (Unila) dari Program Studi Teknik Lingkungan, Jurusan Teknik Sipil, angkatan 2022. Ambri memiliki pengalaman organisasi di lingkungan kampus dan pada 2023 pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung atau BEM U KBM Unila.
Dalam wawancara bersama filsafatmuslim.com, Ambri menilai gerakan mahasiswa saat ini mengalami pelemahan daya tekan. Menurutnya, mahasiswa masih memiliki kekuatan dalam mobilisasi massa, tetapi kerap melemah dalam pengawalan isu setelah aksi berlangsung.
“Gerakan mahasiswa hari ini masih kuat dalam hal mobilisasi massa, bisa sangat ramai saat aksi, tapi setelah itu sering melemah,” kata Ambri.
Ia menilai banyak gerakan mahasiswa hari ini masih bersifat reaktif atau hanya muncul ketika sebuah isu sedang ramai. Pola tersebut, menurut Ambri, membuat gerakan mahasiswa berisiko kehilangan arah apabila tidak disertai strategi advokasi yang konsisten dan berkelanjutan.
Ambri juga menyinggung citra mahasiswa sebagai “agen perubahan”. Menurutnya, istilah tersebut masih relevan apabila diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun, ia melihat sebutan itu kini sering berhenti sebagai simbol atau jargon.
“Istilah tersebut lebih sering dijadikan glorifikasi atau sekadar jargon ketimbang wujud nyata,” ujarnya.
Menurut Ambri, sebagian mahasiswa bangga menyandang identitas sebagai agen perubahan, tetapi belum tentu terlibat langsung dalam kerja-kerja advokasi, aksi, maupun pengawalan kebijakan publik. Karena itu, ia menilai makna agen perubahan perlu dikembalikan pada tindakan yang konkret, bertanggung jawab, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Terkait perbandingan antara gerakan mahasiswa hari ini dan gerakan mahasiswa 1998, Ambri menilai perbandingan tersebut tidak sepenuhnya adil. Menurutnya, konteks perjuangan pada dua masa itu berbeda.
Pada 1998, kata Ambri, lawan gerakan mahasiswa terlihat lebih jelas, yaitu rezim otoriter dan kekuatan militer. Sementara saat ini, tantangan yang dihadapi mahasiswa dinilainya lebih kompleks, termasuk pengaruh oligarki dan regulasi yang dianggap merugikan masyarakat, tetapi hadir dalam bentuk yang tidak selalu mudah dipahami publik.
Ia juga menilai bentuk tekanan terhadap gerakan mahasiswa saat ini berbeda. Ambri menyebut adanya kekhawatiran terhadap konsekuensi hukum maupun akademik, termasuk ancaman melalui UU ITE atau sanksi akademik seperti drop out. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat tantangan gerakan mahasiswa tidak dapat hanya dilihat dari jumlah massa yang turun ke jalan.
Ambri menyebut persoalan terbesar gerakan mahasiswa saat ini adalah kecenderungan yang terlalu reaktif dan kurang memiliki napas perjuangan panjang. Menurutnya, gerakan mahasiswa perlu beradaptasi dengan pola advokasi yang lebih matang, mulai dari konsolidasi, pencerdasan masyarakat, hingga tekanan politik yang berkelanjutan.
“Banyak gerakan yang tidak beradaptasi dengan pola advokasi panjang yang membutuhkan konsolidasi, pencerdasan ke masyarakat, dan tekanan politik yang berkelanjutan,” kata Ambri.
Ia menilai pengawalan isu pasca-demonstrasi masih menjadi titik lemah. Banyak gerakan berhenti setelah aksi selesai, padahal advokasi kebijakan membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan konsistensi.
Selain persoalan strategi, Ambri juga menyoroti sikap apatis sebagian mahasiswa terhadap isu sosial dan politik. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap nilai akademik, kurangnya pemahaman terhadap esensi gerakan mahasiswa, hingga citra demonstrasi yang kerap dikaitkan dengan tindakan anarkis.
Ambri juga menyebut program magang dan program pengembangan karier, seperti MSIB atau program pemerintah lainnya, turut memengaruhi orientasi sebagian mahasiswa. Menurutnya, program tersebut memang menarik bagi pengembangan karier, tetapi dapat membuat sebagian mahasiswa lebih fokus pada kepentingan pribadi dibandingkan isu sosial dan kebangsaan.
Meski demikian, Ambri tidak melihat kondisi tersebut sebagai akhir dari gerakan mahasiswa. Ia menilai gerakan mahasiswa masih dapat kembali relevan apabila mampu melakukan refleksi internal dan memperbaiki pola geraknya.
Menurut Ambri, langkah utama yang perlu dilakukan adalah refleksi dan muhasabah diri. Mahasiswa yang masih peduli terhadap isu publik perlu menyadari kelemahan gerakan saat ini, lalu membangun pola perjuangan yang lebih strategis, konsisten, dan berjangka panjang.
Ambri juga menekankan pentingnya menjaga kemurnian nilai dalam gerakan mahasiswa. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus tetap mengedepankan substansi dan tidak menjadi alat kepentingan politik pihak mana pun.
“Gerakan itu harus murni mengedepankan nilai-nilai substansial tanpa adanya tunggangan atau riding politik dari pihak mana pun,” ujarnya.
Ia meyakini, apabila kesadaran kolektif dapat dibangun, gerakan mahasiswa berpeluang kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat. Bagi Ambri, kekuatan gerakan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya massa saat aksi, tetapi juga oleh konsistensi, keberpihakan terhadap kepentingan publik, dan kemampuan mengawal isu hingga menghasilkan perubahan yang nyata. (Ugy/FM)
