Menyalakan Literasi dari Ruang Kecil: IKM Educare dan Harapan Anak-Anak Lampung
Filsafat Muslim -- Pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang kelas yang besar, gedung yang lengkap, atau fasilitas yang sempurna. Sering kali, pendidikan justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana, dari buku-buku yang dibuka bersama, dari cerita yang dibacakan dengan tulus, dan dari kehadiran orang-orang muda yang mau turun langsung menemani anak-anak belajar.
Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan sosial edukatif bertajuk IKM Educare yang dilaksanakan oleh mahasiswa Institut Teknologi Sumatera atau Itera yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Minangkabau Itera. Kegiatan ini berlangsung di Sekolah Rakyat Busa Pustaka, Kemiling, Bandar Lampung, pada Minggu, 14 Juni 2026.
IKM Educare bukan sekadar agenda pengabdian mahasiswa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian anak muda terhadap masa depan pendidikan, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki akses belajar seluas anak-anak lainnya. Di tengah berbagai persoalan pendidikan yang masih dihadapi masyarakat, kehadiran mahasiswa di ruang-ruang komunitas seperti ini menjadi sinyal penting bahwa perubahan tidak harus selalu menunggu kebijakan besar. Perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil yang konsisten dan berpihak.
Program ini diikuti sekitar 50 anak usia sekolah dasar dan melibatkan lebih dari 50 relawan. Para relawan berasal dari IKM Itera, Himpunan Mahasiswa Diploma Perpustakaan Universitas Lampung, serta relawan mandiri. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kerja-kerja pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kepedulian bersama, keberlanjutan, dan kesediaan banyak pihak untuk hadir di tengah masyarakat.
Sekolah Rakyat Busa Pustaka sendiri dikenal sebagai komunitas yang bergerak dalam penyediaan akses pendidikan gratis, pengajaran membaca, serta pengembangan keterampilan bagi anak-anak marjinal di Lampung. Keberadaan komunitas seperti ini menjadi sangat penting karena tidak semua anak lahir dalam kondisi yang sama. Ada anak yang dengan mudah mendapatkan buku, bimbingan belajar, dan dukungan keluarga. Namun, ada pula anak-anak yang harus berjuang lebih keras hanya untuk mengenal huruf, membaca dengan lancar, atau membangun keberanian untuk bermimpi.
Ketua Pelaksana IKM Educare, Ariq Rais Alfarizy, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya diajak membaca dan menulis, tetapi juga dikenalkan pada nilai-nilai karakter, etika, sopan santun, dan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang interaktif, belajar tidak lagi terasa kaku. Anak-anak diajak memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga tentang bagaimana membentuk sikap, menghargai orang lain, dan membiasakan diri berperilaku baik.
Inilah sisi penting dari pendidikan yang sering terlupakan. Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan. Anak yang pandai membaca perlu dibimbing agar mampu membedakan baik dan buruk. Anak yang cerdas secara akademik tetap perlu ditanamkan adab, empati, dan tanggung jawab. Sebab generasi yang kuat bukan hanya generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang memiliki karakter.
Dalam kegiatan IKM Educare, anak-anak mengikuti berbagai aktivitas seperti membaca bersama, bercerita, story telling, cerdas cermat, permainan edukatif, hingga materi tentang etika dan perilaku positif. Seluruh kegiatan dikemas secara ringan dan menyenangkan agar anak-anak merasa dekat dengan proses belajar. Metode seperti ini penting karena dunia anak adalah dunia bermain, bertanya, meniru, dan membangun rasa ingin tahu. Ketika pendidikan disampaikan dengan cara yang hangat, anak-anak akan lebih mudah menerima pesan yang diberikan.
Kegiatan ini juga memberi pengalaman belajar baru bagi anak-anak. Mereka tidak hanya bertemu dengan relawan, tetapi juga melihat langsung sosok mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Bagi sebagian anak, perjumpaan seperti ini bisa menjadi pemantik mimpi. Mereka dapat melihat bahwa kuliah bukan sesuatu yang mustahil. Pendidikan tinggi bukan hanya milik orang tertentu, tetapi bisa menjadi cita-cita yang diperjuangkan.
Founder Busa Pustaka, Adi Sarwono, mengapresiasi kegiatan IKM Educare karena dinilai mampu menghadirkan suasana belajar yang berbeda dan memberi motivasi kepada anak-anak untuk terus melanjutkan pendidikan. Menurutnya, semangat mahasiswa yang merantau dan menempuh pendidikan di Itera dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk berani bermimpi lebih tinggi.
Nilai perjuangan pelajar rantau memang memiliki makna yang kuat. Mereka meninggalkan kampung halaman, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menempuh pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Semangat seperti ini sejalan dengan pesan dalam kisah-kisah inspiratif seperti Ranah 3 Warna dan Negeri 5 Menara, yang mengajarkan keberanian bermimpi, ketekunan belajar, dan keyakinan bahwa masa depan dapat diraih melalui usaha yang sungguh-sungguh.
Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan sosial seperti IKM Educare juga membuktikan bahwa kampus tidak boleh terpisah dari masyarakat. Ilmu yang diperoleh di ruang kuliah seharusnya kembali memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Mahasiswa bukan hanya agen akademik, tetapi juga agen sosial yang memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjawab persoalan masyarakat.
Di sinilah pengabdian menemukan maknanya. Bukan sekadar datang, mengadakan acara, lalu selesai. Pengabdian yang sejati adalah ketika kehadiran mahasiswa mampu meninggalkan kesan, membuka wawasan, dan menumbuhkan harapan. Anak-anak yang mengikuti kegiatan mungkin belum sepenuhnya memahami makna besar dari literasi dan pendidikan karakter. Namun, pengalaman hari itu bisa menjadi kenangan yang menanamkan keyakinan bahwa mereka juga berharga, mereka juga mampu, dan mereka juga berhak memiliki masa depan.
IKM Educare juga menjadi bukti bahwa membangun generasi tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Kadang, cukup dengan membuka buku bersama anak-anak, mendengarkan cerita mereka, mengajak mereka bermain sambil belajar, dan memberi contoh bahwa ilmu dapat mengubah hidup. Dari kegiatan sederhana seperti ini, tumbuh kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Bagi masyarakat luas, kegiatan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa masih banyak anak yang membutuhkan dukungan. Literasi tidak bisa hanya dibicarakan dalam seminar, tetapi harus dihidupkan di ruang-ruang kecil masyarakat. Pendidikan karakter tidak cukup hanya ditulis dalam kurikulum, tetapi harus dicontohkan melalui perbuatan nyata. Anak-anak membutuhkan figur yang hadir, bukan hanya nasihat yang jauh.
Melalui IKM Educare, IKM Itera menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran penting dalam membangun masyarakat. Mereka hadir bukan sebagai pihak yang merasa lebih tahu, tetapi sebagai kakak, teman belajar, dan penggerak harapan bagi anak-anak. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar menciptakan generasi yang cerdas, berdaya, dan berakhlak baik.
Dalam perspektif Islam, kegiatan seperti ini memiliki nilai yang sangat mulia. Islam menempatkan ilmu sebagai jalan kemuliaan. Perintah pertama yang turun dalam Al-Qur’an adalah “iqra”, membaca. Ini menunjukkan bahwa literasi, belajar, dan mencari ilmu merupakan fondasi penting dalam kehidupan manusia. Maka, mengajarkan anak-anak membaca, mendampingi mereka belajar, dan menanamkan akhlak baik adalah bagian dari amal yang bernilai ibadah.
Islam juga mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ketika mahasiswa dan relawan meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak, mereka sedang menjalankan nilai kepedulian, tolong-menolong, dan tanggung jawab sosial. Ilmu yang dibagikan tidak akan berkurang, justru menjadi amal jariyah apabila membawa manfaat bagi kehidupan orang lain.
Nilai Islam lainnya yang tampak dalam kegiatan ini adalah pentingnya adab sebelum ilmu. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca dan menjawab pertanyaan, tetapi juga diajak memahami sopan santun, menghargai sesama, dan berperilaku baik. Inilah pendidikan yang utuh: mencerdaskan akal, melembutkan hati, dan memperbaiki akhlak.
IKM Educare menjadi pengingat bahwa membangun masa depan bangsa tidak cukup hanya dengan mencetak anak-anak yang pintar. Kita juga membutuhkan generasi yang beriman, beradab, peduli, dan memiliki keberanian untuk bermimpi. Dari ruang sederhana di Busa Pustaka, harapan itu dinyalakan. Dan dari tangan-tangan muda yang peduli, masa depan anak-anak Lampung mulai disapa dengan cara yang lebih hangat. (Ugy/FM)

