Dari Boven Digoel hingga Lulusan Akselerasi 16 Tahun: Kisah Inspiratif Dua Mahasiswa Baru Itera 2026
Filsafat Muslim -- Lampung Selatan, 11 Agustus 2026, Institut Teknologi Sumatera (Itera) kembali menyambut generasi penerus bangsa. Pada tahun akademik 2026 ini, sebanyak 5.832 mahasiswa baru dari berbagai pelosok Nusantara resmi dikukuhkan. Di tengah ribuan wajah baru tersebut, muncul dua sosok istimewa yang mencuri perhatian publik berkat latar belakang dan rekam jejak mereka yang inspiratif.
Sosok pertama adalah Raymondo Cicilio Komoyap, pemuda asal Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, yang tercatat sebagai mahasiswa dengan daerah asal paling jauh. Raymondo berhasil menembus kampus teknologi kebanggaan Sumatera ini melalui jalur Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), sebuah program beasiswa dari pemerintah yang ditujukan bagi putra-putri daerah afirmasi, termasuk Papua.
Diterima di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Raymondo mengaku jarak ribuan kilometer dari kampung halaman sama sekali tidak menyurutkan semangatnya. Pemuda yang memiliki minat besar di bidang menggambar dan perencanaan tata ruang ini memiliki misi khusus jauh-jauh menyeberang ke Pulau Sumatera.
"Saya melihat peluang masuk yang terbuka dan ingin menambah representasi mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan perguruan tinggi di wilayah Sumatera," ungkap Raymondo.
Fasilitas kampus yang memadai, lingkungan belajar yang kondusif, serta restu keluarga menjadi pijakan kuat baginya. Lebih dari sekadar mencari gelar, Raymondo menyimpan visi besar. Kelak, ia bertekad membawa pulang ilmu tata kota yang dipelajarinya untuk membangun dan memajukan tata letak perkotaan di tanah kelahirannya, Papua.
Sementara itu, rekor mahasiswa termuda tahun ini dipecahkan oleh Muhammad Adib Zuhdi. Di saat remajaseusianya masih duduk di bangku sekolah menengah, Adib telah resmi menyandang status mahasiswa Itera di usia yang baru menginjak 16 tahun, 6 bulan, 25 hari.
Adib diterima di Program Studi Rekayasa Minyak dan Gas melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Lompatan akademis yang luar biasa ini tak lepas dari keikutsertaannya dalam program kelas akselerasi saat bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Palembang. Setelah melewati serangkaian tes psikologi dan seleksi ketat, ia terpilih menjadi salah satu dari 24 siswa jenius yang berhasil memadatkan masa studi di bangku menengah atas.
Keputusannya berlabuh di Itera didorong oleh rekam jejak kakak kelasnya yang lebih dulu menempuh pendidikan di program studi yang sama. "Saya termotivasi oleh kakak kelas, dan tentunya mendapat dukungan penuh dari keluarga," ujar Adib. Ia memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap sektor energi dan berambisi untuk mempelajari sistem energi secara komprehensif demi berkontribusi pada ketahanan dan pengembangan energi nasional.
Tinjauan Nilai-Nilai Islam: Rihlah lil-Ilm dan Optimalisasi Masa Muda
Kisah inspiratif Raymondo dan Adib tidak sekadar catatan akademik, melainkan manifestasi dari nilai-nilai luhur yang sangat diagungkan dalam ajaran Islam.
Pertama, keteguhan Raymondo yang rela menempuh perjalanan melintasi pulau demi menuntut ilmu adalah cerminan sejati dari tradisi Rihlah fi Thalabil Ilmi (perjalanan suci mencari ilmu). Dalam Islam, berhijrah untuk menuntut ilmu memiliki kedudukan yang amat mulia. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: "Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim). Niat mulianya untuk kembali dan membangun Papua juga selaras dengan prinsip khairunnas anfa'uhum linnas, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Kedua, pencapaian luar biasa Adib di usia yang sangat belia merupakan wujud nyata dari optimalisasi masa muda yang ditekankan dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW pernah berpesan untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, yang salah satunya adalah "Masa mudamu sebelum datang masa tuamu" (HR. Al-Hakim). Kesadaran Adib untuk mendedikasikan masa mudanya dalam mempelajari rekayasa energi demi kemajuan peradaban merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat akal (ulul albab) dan waktu yang diberikan oleh Allah SWT, sehingga masa mudanya dihabiskan untuk hal-hal yang produktif dan membawa kebaikan bagi alam semesta.

