Lensa Etika Dan Stoikisme Dalam Tragedi Timothy Anugrah Saputra : Sebuah Renungan Tentang Empati, Kewarasan, dan Tanggung Jawab Kolektif
Filsafat Muslim - Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng oleh noda hitam. Timothy Anugrah Saputra, seorang mahasiswa Universitas Udayana, meregang nyawa setelah jatuh dari sebuah gedung kampus. Awalnya, ini tampak seperti statistik pilu lainnya sebuah "kasus" yang akan masuk ke dalam laporan tahunan. Namun, apa yang terjadi pasca-kematiannya menyulut amarah nasional: percakapan digital sekelompok mahasiswa yang mencemooh tragedi itu, mengolok-olok ketinggian lantai dan biaya pemulangan jenazah. Di balik berita utama yang penuh sensasi, terletaklah lapisan-lapisan pertanyaan filosofis yang dalam. Tragedi Timothy bukan sekadar kisah tentang bullying, ini adalah cermin retak bagi masyarakat kita, yang memaksa kita untuk memeriksa fondasi etika kita dan menguji ketahanan jiwa manusia dalam menghadapi kesulitan, melalui lensa Filsafat Etika dan Stoikisme.
Dekonstruksi
Kejahatan Digital Melampaui Hukum Positif menuju Imperatif Kategoris
Percakapan
WhatsApp yang viral itu lebih dari sekadar bukti kurangnya empati; itu adalah
pelanggaran terhadap prinsip moral paling mendasar. Di sinilah filsafat
Immanuel Kant, dengan "Imperatif Kategoris"-nya, memberikan
perspektif yang tajam. Kant berargumen bahwa kita harus bertindak hanya menurut
prinsip yang dapat kita kehendaki untuk menjadi hukum universal. Tindakan moral
adalah yang menghormati kemanusiaan, baik dalam diri sendiri maupun orang lain,
sebagai sebuah tujuan pada dirinya sendiri, dan bukan sekadar sebagai sarana
untuk mencapai tujuan.
Aksi
mencemooh kematian Timothy adalah antitesis dari prinsip ini. Pertama, tindakan
itu mengubah tragedi kemanusiaan menjadi hiburan atau konten untuk obrolan
ringan. Para pelaku tidak melihat Timothy atau bahkan kenangannya sebagai
"tujuan pada dirinya sendiri," sebuah kehidupan yang memiliki nilai
intrinsik. Dia telah direduksi menjadi sekadar "sarana" untuk lelucon
kasar dan ikatan sosial yang sakit di antara mereka. Bisakah kita menghendaki
dunia di mana setiap kematian tragis diejek secara publik? Bisakah kita ingin
hal seperti itu menjadi hukum universal? Jawabannya jelas tidak. Imperatif
Kategoris Kant dengan tegas mengecam perilaku semacam ini, bukan hanya karena
konsekuensinya yang menyakitkan, tetapi karena tindakan itu sendiri pada
hakikatnya salah ia merusak fondasi penghormatan terhadap manusia.
Kedua,
etika Kant menuntut kita untuk mempertimbangkan niat. Meskipun pihak kampus
menegaskan bahwa pesan-pesan itu dibuat setelah kematian Timothy dan karenanya
bukan penyebab langsung, niat di balik pesan-pesan itu tetaplah jahat. Niatnya
adalah untuk merendahkan, melecehkan, dan menunjukkan ketidak pedulian terhadap
penderitaan orang lain. Dalam kerangka Kant, niat buruk ini sudah cukup untuk
membuat tindakan tersebut tidak bermoral, terlepas dari kapan itu terjadi.
Tanggapan keras publik bukan hanya reaksi emosional; itu adalah penegasan
intuitif kolektif kita terhadap hukum moral ini sebuah pengakuan bahwa ada
batasan yang tidak boleh dilanggar, sebuah penghormatan terhadap martabat
manusia yang melekat.
Kebajikan
yang Mati dan Korosi Karakter, Sebuah Perspektif Etika Virtue
Sementara
Kant berfokus pada tugas dan prinsip, Aristoteles dan tradisi Etika Virtue
(Kebajikan) memusatkan perhatian pada karakter. Filsafat ini bertanya,
"Bagaimana seharusnya manusia hidup?" Jawabannya terletak pada
pengembangan kebajikan (aretē) sifat-sifat karakter yang memungkinkan kita
untuk berkembang sebagai manusia. Kebajikan utama seperti Kebijaksanaan
(Phronesis), Keadilan, Keberanian, dan Moderasi adalah hal yang jelas-jelas
absen dalam narasi kasus ini.
Di
mana kebijaksanaan praktis ketika sekelompok individu terdidik memutuskan bahwa
mencemooh kematian adalah respons yang pantas? Di mana keadilan, yang
melibatkan memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya dalam hal
ini, hak Timothy untuk dikenang dengan hormat? Di mana keberanian moral untuk
menentang arus, untuk mengatakan dalam grup chat, "Apa yang kalian lakukan
ini salah"? Yang muncul justru adalah kebalikan dari kebajikan: kekejaman,
ketidakadilan, dan kebodohan.
Kampus, dalam konteks ini, seharusnya menjadi telos tempat tujuan untuk menyempurnakan karakter manusia, untuk membentuk warga negara yang beradab. Tragedi Timothy mengungkapkan kegagalan dalam misi pembentukan karakter ini. Ini bukan hanya tentang pelanggaran aturan; ini tentang erosi kebajikan. Para mahasiswa tersebut mungkin secara akademis kompeten, tetapi karakter moral mereka cacat. Mereka gagal menginternalisasi kebajikan-kebajikan yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan liberal. Tanggapan kampus yang memberikan sanksi, meskipun perlu, hanyalah perbaikan di permukaan. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana menanamkan kembali etika virtue ke dalam kurikulum tersembunyi kehidupan kampus, menciptakan lingkungan di mana empati dan rasa hormat bukan sekadar slogan, tetapi menjadi bagian dari heksis keadaan karakter yang mendarah daging.
Stoikisme
di Ambang Jurang, Membedah Tanggapan terhadap Kesulitan
Di
sinilah kita beralih ke filsafat Stoa, yang memberikan lensa yang kontras namun
sangat relevan. Stoikisme, yang diajarkan oleh filsuf seperti Epiktetus,
Seneca, dan Marcus Aurelius, bukanlah filsafat tentang penekanan emosi,
melainkan tentang penguasaan diri dan ketahanan dalam menghadapi
peristiwa-peristiwa di luar kendali kita.
Epiktetus
membuka Enchiridion-nya dengan pernyataan mendalam: "Beberapa hal berada
dalam kendali kita, dan beberapa hal tidak." Dalam kendali kita adalah
opini, motivasi, keinginan, dan kebencian kita pada dasarnya, cara kita memilih
untuk merespons dunia. Di luar kendali kita adalah tubuh, harta benda,
reputasi, dan yang paling penting tindakan orang lain.
Mari
kita terapkan ini pada para aktor dalam drama ini.
Bagi
Timothy (jika memang ada tekanan sebelumnya): Stoikisme menawarkan alat untuk
menghadapi kesulitan yang mungkin ia alami. Seorang Stoik akan berusaha untuk
membedakan: "Apa yang sebenarnya berada dalam kendaliku? Aku tidak dapat
mengendalikan perkataan atau perbuatan buruk orang lain (ta aph' hēmin), tetapi
aku dapat mengendalikan penilaianku (hēgemonikon) terhadapnya. Aku dapat
memilih untuk tidak membiarkan perkataan mereka mendefinisikan nilaimu."
Ini sangat sulit, dan Stoikisme membutuhkan latihan yang gigih. Namun, filsafat
ini menawarkan jalan keluar dengan berfokus pada kebebasan batin pengakuan
bahwa nilai dan harga diri kita berasal dari dalam, bukan dari persetujuan atau
penolakan orang lain. Kasus Timothy adalah tragedi yang mengerikan, sebuah
pengingat akan betapa rapuhnya jiwa manusia ketika dibiarkan tanpa dukungan dan
alat-alat psikologis untuk bertahan.
Bagi
Para Pencemooh: Respons mereka adalah penolakan total terhadap Stoikisme.
Alih-alih mengendalikan "opini dan motivasi" mereka, mereka
membiarkan kebiasaan terburuk mereka kekejaman, kesembronoan mengambil alih.
Seorang Stoik diajarkan untuk merespons tragedi dengan penuh perhatian dan
refleksi. Marcus Aurelius menulis, "Pertama-tama, jangan bertindak tanpa
tujuan. Kedua, jangan membuat tindakanmu mengacu pada apa pun selain untuk
kebaikan bersama." Mencemooh kematian adalah tindakan tanpa tujuan yang merusak
kebaikan bersama. Ini menunjukkan kurangnya disiplin hasrat salah satu dari
tiga disiplin inti Stoikisme.
Bagi Kita (Masyarakat): Stoikisme mengajarkan kita untuk merespons kesalahan orang lain dengan penilaian yang tenang, bukan dengan amarah yang tak terkendali. Amarah publik, meskipun dapat dipahami, sering kali tidak produktif dan merusak jiwa kita sendiri. Seorang Stoik mungkin akan menyesali tindakan para pelaku, mengakui bahwa mereka telah tersesat dan gagal memahami hidup yang baik, dan kemudian berfokus pada tindakan konstruktif: mendorong reformasi kebijakan, mendukung keluarga, dan memperkuat sistem pendukung kesehatan mental. Amarah, kata Seneca, adalah "kegilaan sesaat"; kita harus berusaha untuk beralih dari amarah menuju keadilan yang tenang dan tegas.
Sintesis:
Tanggung Jawab Sosial
Jadi,
dimanakah kita berdiri setelah menganalisisnya melalui lensa-lensa ini? Kita
menemukan bahwa Filsafat Etika (Kant dan Virtue) dan Stoikisme, meskipun
berasal dari tradisi yang berbeda, saling melengkapi dalam merespons tragedi
semacam ini.
Etika
Kant dan Virtue memberikan kerangka kerja untuk menghakimi tindakan para pelaku
dan mendiagnosis kegagalan karakter dan institusi. Mereka menetapkan standar
moral yang objektif dan menuntut pertanggungjawaban. Mereka adalah fondasi
untuk membangun komunitas moral di kampus, di mana setiap orang diakui
martabatnya dan setiap orang berusaha untuk mengembangkan karakter yang bajik.
Stoikisme,
di sisi lain, menawarkan alat psikologis praktis bagi individu untuk bertahan
dan berkembang dalam lingkungan yang penuh tekanan, sekaligus panduan bagi
masyarakat untuk merespons krisis tanpa tenggelam dalam amarah yang merusak.
Stoikisme adalah "sistem kekebalan" psikologis yang dapat melindungi
calon Timothy di masa depan, dan juga mencegah orang lain menjadi pencemooh
dengan mengajarkan penguasaan diri dan perspektif.
Tragedi
Timothy adalah sebuah badai sempurna dari kegagalan: kegagalan kebajikan
individu, kegagalan untuk mematuhi hukum moral, dan kegagalan untuk menerapkan
ketahanan Stoik. Respons kampus dan pemerintah dengan Permendikbudristek No.
55/2024 adalah langkah ke arah yang benar sebuah upaya untuk menanamkan
prinsip-prinsip etika ke dalam struktur tata kelola. Namun, regulasi saja tidak
cukup.
Kita
membutuhkan pendidikan humaniora yang renaisans, yang menempatkan filsafat,
sastra, dan seni pada pusat pembentukan karakter. Kita perlu mengajarkan kaum
muda bukan hanya bagaimana melakukan sesuatu, tetapi bagaimana hidup. Kita
perlu membekali mereka dengan kebijaksanaan Kant untuk menghormati orang lain,
kebijaksanaan Aristoteles untuk membangun karakter yang kuat, dan ketabahan
Stoik untuk menavigasi badai kehidupan tanpa kehilangan arah atau menghancurkan
orang lain.
Kasus
Timothy secara tragis menjadi kasus uji
bagi jiwa bangsa kita. Dengan merenungkan kepergiannya melalui lensa
kebijaksanaan kuno, kita dapat mengubah kepedihan menjadi sebuah perjalanan
kolektif menuju pencerahan sebuah perjalanan untuk membangun ruang di mana
martabat setiap manusia dihormati, karakter dibentuk dengan sengaja, dan setiap
jiwa dilengkapi dengan ketangguhan untuk berdiri tegar, bahkan di tepi jurang. (Hdk/FM)

