Dinamika Kabinet Mahasiswa ITERA 2025: Membangun Komunikasi, Menjaga Arah Gerakan
Filsafat Muslim - Di balik roda organisasi mahasiswa, Sekretaris Jenderal Kabinet Mahasiswa (KM) ITERA periode 2025, Ikbar Raihansyah, memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan komunikasi, pengelolaan administrasi, hingga pengambilan sikap terhadap kebijakan nasional. Mahasiswa aktif Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2022 ini mengungkapkan bagaimana ia dan timnya mengelola organisasi yang kompleks di tengah dinamika kampus dan tantangan eksternal.
"Memang tanggung jawab Sekjen itu cukup besar, terutama sebagai jembatan antara Presiden Mahasiswa dengan seluruh kementerian dan kemenkoan di bawah kabinet," ujarnya. Dalam struktur terbaru, KM ITERA 2025 menaungi tujuh kemenkoan, termasuk Kemenkoan Penelitian, Riset, dan Teknologi (Penristek) yang baru dibentuk untuk memperkuat arah kerja riset dan inovasi.
Dalam menjalin komunikasi, Ikbar memilih pendekatan informal namun tetap beretika. Menurutnya, gaya komunikasi santai lebih efektif membangun kedekatan antaranggota kabinet yang umumnya hanya terpaut satu angkatan. "Walaupun ada jabatan, komunikasi yang fleksibel tetap lebih membumi. Tapi tetap harus ada nilai pembelajaran, biar komunikasi tetap beretika," jelasnya.
Administrasi yang Ketat dan Terstruktur
Dalam bidang administrasi, Ikbar menekankan pentingnya sistem dokumentasi yang rapi dan terintegrasi. Ia menjelaskan bahwa semua surat menyurat dikendalikan oleh kesekjenan, dengan prosedur yang ketat, termasuk nomor surat dan perihal yang tercatat dalam basis data. "Semua ada jalurnya. Bahkan surat tugas hingga SK disusun secara sistematis, agar ketika ada audit atau pengecekan, kami siap," tuturnya.
Keamanan data pun dijaga melalui sistem akses terbatas. Hanya jajaran inti seperti Presiden Mahasiswa, Sekjen, serta sekretaris menko dan menteri yang memiliki akses penuh terhadap dokumen sensitif. Hal ini dilakukan demi menjaga kerahasiaan sekaligus memastikan informasi tidak bocor ke pihak yang tidak berkepentingan.
Menjembatani Aspirasi di Tengah Keragaman
Sebagai lembaga sentral, KM ITERA dihadapkan pada tantangan besar dalam mengkoordinasikan aspirasi dari berbagai himpunan dan unit kegiatan mahasiswa (UKM). Ikbar mengakui bahwa posisi kabinet cukup kompleks karena harus menyeimbangkan arah kebijakan kampus dengan kebutuhan mahasiswa. "Kami bukan lembaga yang bisa memaksa UKM atau HMPS mengikuti kami. Mereka punya AD/RT sendiri. Tapi kami hadir untuk menjembatani," tegasnya.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengadakan Simposium Sinergi Itera (Sigitera), sebuah forum terbuka yang mempertemukan semua elemen kampus untuk menyampaikan aspirasi, mengevaluasi kebijakan, dan mencari solusi bersama. "Forum ini jadi ruang komunikasi dua arah. Bahkan bisa digunakan untuk menyampaikan aspirasi mendesak," tambah Ikbar.
Dinamika Internal dan Evaluasi Berkelanjutan
Dalam pengelolaan organisasi, konflik internal dianggap sebagai hal yang wajar. Namun, Ikbar menekankan pentingnya pembekalan etika dan komunikasi sejak awal masa kepengurusan. Evaluasi rutin juga dilakukan, termasuk rapat bulanan internal dan evaluasi bersama birokrat setiap pekan.
Terkait insiden dalam kegiatan Litera yang berbuntut pada memorandum 1 dari Senat Mahasiswa, Ikbar melihatnya sebagai pelajaran besar. "Itu refleksi bahwa kami perlu lebih terbuka. Bukan hanya kabinet yang bicara, tapi masa juga harus didengar. Kita harus tahu permasalahan secara menyeluruh sebelum menentukan sikap," jelasnya.
Sikap Terhadap Kebijakan Nasional
Menyinggung posisi KM ITERA terhadap kebijakan nasional, terutama setelah satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Ikbar menjelaskan bahwa KM ITERA tetap bersikap independen. Meski tidak tergabung dalam aliansi mahasiswa nasional, mereka tetap mengikuti isu strategis dan bersikap sesuai hasil kajian internal.
"Kami tidak anti untuk kolaborasi dalam aksi, selama tuntutannya selaras dengan apa yang kami perjuangkan. Tapi kami tidak terafiliasi dengan BEM SI atau aliansi lainnya," katanya.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun tidak ditujukan langsung kepada mahasiswa, KM ITERA tetap melakukan kajian atas dampak program tersebut, termasuk dugaan penyalahgunaan anggaran oleh mitra pelaksana. "Tujuannya bagus, tapi pelaksanaannya harus diawasi ketat," tegasnya.
Mengawal Kebijakan Strategis: Fokus pada Dampak Nyata
Dalam menilai kebijakan strategis pemerintah, KM ITERA lebih menyoroti dampak langsung yang dirasakan mahasiswa, seperti ketersediaan BBM, beasiswa, hingga akses terhadap dana hibah penelitian. "Kita ini bukan cuma menilai, tapi juga merasakannya langsung. Seperti ketika bensin langka, atau dana kegiatan belum cair karena proses birokrasi berbelit," ujar Ikbar.
Ia juga menyoroti perlunya transparansi dalam konversi kegiatan mahasiswa menjadi nilai akademik, terutama bagi mereka yang mengikuti hibah atau program pengabdian masyarakat. "Jangan sampai mereka capek-capek kerja, tapi enggak dapat pengakuan akademik yang layak. Ini yang kami kawal terus," tuturnya.
Di tengah berbagai tantangan, Ikbar menegaskan bahwa KM ITERA tetap berkomitmen menjaga keseimbangan antara gerakan di dalam kampus dan respons terhadap isu nasional. "Boleh saja bicara isu nasional, tapi jangan lupa rumah kita sendiri. Kita harus bangun internal sebelum bicara ke luar," pungkasnya. (Ugy/FM)
